Sabtu, 22 Maret 2025

Aktivitas Harus Produktif dan Harus Tidak Produktif

Di balik setiap lompatan peradaban, ada ketidakproduktifan yang jarang diungkap: kelelahan, kegagalan, dan momen "diam" yang justru melahirkan terobosan

  • Isaac Newton merumuskan gravitasi [produktivitas] saat lockdown [tidak produktif] karena wabah. 
  • J.K. Rowling menulis Harry Potter [produktif] di sela-sela mengurus anak sebagai ibu tunggal [tidak produktif]. 
  • Bahkan, alam pun punya siklus: musim panen [produktif] diikuti musim istirahat [tidak produktif] agar tanah tetap subur. 
  • Riset pun membuktikan bahwa tidur 7-8 jam/hari [tidak produktif] meningkatkan produktivitas 30% dibanding kerja lembur. 
  • Kemudian seni [tidak produktif] diperlukan dalam terapi trauma [produktif] pasca-bencana alam.

Bayangkan kehidupan seperti kebun:

  1. Produktivitas adalah benih yang ditanam.
  2. Istirahat dan refleksi adalah air dan pupuk yang menyuburkannya.
  3. Seni dan spiritualitas adalah bunga yang membuat kebun itu indah dipandang.

Kemajuan kehidupan tercapai melalui inovasi dan kontribusi aktif di berbagai bidang, namun keberlanjutan dan kualitas hidup juga bergantung pada keseimbangan—dengan memberi ruang bagi refleksi, istirahat, dan ekspresi kreatif. Dengan demikian, produktivitas yang berkelanjutan harus terintegrasi dengan perawatan diri dan penghargaan terhadap momen-momen yang tak selalu terukur dalam output, guna mendukung perkembangan holistik yang sehat dan berkesinambungan.

Produktif Membawa Kemajuan

Bayangkan nenek moyang kita duduk diam tanpa menciptakan api atau bercocok tanam. Mungkin kita masih hidup di gua! Aktivitas ekonomi, inovasi teknologi, dan riset (seperti produksi vaksin atau panel surya) jelas mendorong kemajuan. Tanpa produktivitas, tak ada listrik, internet, atau rumah sakit. Bahkan, hukum alam pun "mendukung" argumen ini: alam semesta cenderung kacau (entropi), dan manusia harus terus berproduksi untuk menjaga keteraturan—seperti bercocok tanam agar tidak kelaparan. 

Sejak zaman prasejarah, manusia bertahan dengan menciptakan alat, membangun komunitas, dan berbagi pengetahuan. Revolusi Agrikultur mengubah cara kita makan, Revolusi Industri melahirkan mesin, dan Revolusi Digital menghubungkan miliaran orang. Kontribusi aktif di bidang sains, teknologi, seni, atau pendidikan adalah roket pendorong kemajuan. Contoh nyata:

  • Penemuan vaksin menyelamatkan jutaan nyawa.
  • Bahan bakar fosil memudahkan untuk memasak dan mengurangi ketergantungan pada hewan dan tenaga manusia untuk perjalanan jauh
  • Teknologi energi terbarukan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
  • Gerakan sosial dan pendidikan mendorong masyarakat yang lebih adil.



Sabtu, 15 Maret 2025

Apa itu Penting: Faktor Penyebab Penting

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering dihadapkan pada berbagai hal yang memerlukan penilaian mengenai tingkat kepentingannya. Untuk memudahkan pemahaman, kita dapat menggunakan akronim "DAUR-SO-NI-JAPAN-BATU" sebagai panduan dalam menilai faktor-faktor yang membuat sesuatu menjadi penting. Berikut adalah penjelasan dari setiap komponen akronim tersebut:

  • DA-URDampak & Urgensi

Dampak: Seberapa besar pengaruh suatu hal terhadap kehidupan kita atau orang lain. Semakin besar dampaknya, semakin penting hal tersebut.
Urgensi: Seberapa mendesak hal tersebut memerlukan perhatian atau tindakan. Hal yang memerlukan respons cepat biasanya dianggap lebih penting.

  • SOSosial

Apakah hal tersebut memiliki pengaruh atau relevansi dalam konteks sosial atau masyarakat. Misalnya, kebijakan yang mempengaruhi kesejahteraan masyarakat luas cenderung dianggap penting.

  • NINilai

Sejauh mana hal tersebut sesuai dengan nilai-nilai, prinsip, atau keyakinan yang kita pegang. Sesuatu yang selaras dengan nilai pribadi atau budaya kita biasanya dianggap lebih penting.

  • JAPAN – Jangka Panjang

Apakah hal tersebut memiliki konsekuensi atau manfaat dalam jangka panjang. Keputusan atau tindakan dengan dampak jangka panjang sering kali dianggap lebih penting dibandingkan yang bersifat sementara.

  • BATUBudaya & Tujuan

Budaya: Apakah hal tersebut sesuai atau berpengaruh terhadap budaya setempat atau kelompok tertentu.
Tujuan: Seberapa besar hal tersebut mendukung pencapaian tujuan pribadi atau kolektif.

Dengan bermodalkan satu dari 7 unsur ini, suatu hal sudah bisa dianggap penting bagi individu tertentu, meskipun diremehkan oleh individu lainnya. Apakah hal itu memang benar-benar penting? Kita tidak tahu, karena kepentingan adalah penilaian subjektif, sehingga tidak layak dipaksakan tapi bisa ditularkan.



Contoh Penerapan Akronim "DAUR-SO-NI-JAPAN-BATU":

Misalkan Anda mempertimbangkan untuk mengikuti program pelatihan baru. Dengan menggunakan akronim ini, Anda dapat mengevaluasi:

  • DAUR: Apakah program ini akan berdampak signifikan pada karier Anda? Apakah mendesak untuk diikuti sekarang?
  • SO: Apakah program ini akan meningkatkan kontribusi Anda dalam masyarakat atau komunitas profesional?
  • NI: Apakah materi yang diajarkan sesuai dengan nilai dan prinsip Anda?
  • JAPAN: Apakah keterampilan yang diperoleh akan bermanfaat dalam jangka panjang?
  • BATU: Apakah program ini sejalan dengan tujuan karier Anda dan sesuai dengan budaya kerja Anda?

Dengan mempertimbangkan faktor-faktor di atas, Anda dapat menentukan tingkat kepentingan suatu hal dan membuat keputusan yang lebih bijak. Akronim "DAUR-SO-NI-JAPAN-BATU" ini diharapkan dapat menjadi alat bantu yang efektif dalam proses pengambilan keputusan sehari-hari.


DAUR-SO-NI-JAPAN-BATU: Bukan untuk Memilih, Tapi untuk Menyadari Mengapa Kita Mengabaikan Sesuatu

Hidup ini penuh dengan tuntutan, harapan, dan suara-suara yang saling bersaing. Terkadang, kita meremehkan hal yang dianggap penting oleh orang lain, atau sebaliknya: terjebak mengurus sesuatu hanya karena lingkungan menyebutnya "penting", padahal hati kita tak sepenuhnya sepakat. Di sinilah DAUR-SO-NI-JAPAN-BATU berperan: bukan sebagai alat untuk memutuskan, tapi sebagai cermin untuk memahami: Mengapa aku mengabaikan ini? Apa yang membuat orang lain begitu menekankannya? Dan faktor pribadi apa yang kupakai saat meremehkan hal itu?


Mengurai "Kepentingan" yang Dipaksakan

Bayangkan skenario ini:
Kamu terus-menerus diminta ikut rapat komunitas RT yang membahas acara bersih-bersih lingkungan. Kamu sering menghindar, merasa ini tidak penting. Tapi tetangga-tetangga lain sangat antusias. Mengapa?

Gunakan DAUR-SO-NI-JAPAN-BATU untuk memahami perspektif mereka:

  • DAUR: Mereka percaya acara ini berdampak pada kebersihan lingkungan (Dampak) dan harus segera dilakukan karena musim hujan datang (Urgensi).
  • SO: Ini tentang solidaritas sosial; tidak ikut bisa dianggap tidak peduli.
  • NI: Nilai kolektivitas dalam budaya setempat membuat kegiatan ini dianggap sakral.
  • JAPAN: Lingkungan bersih diyakini mencegah banjir jangka panjang.
  • BATU: Budaya gotong-royong adalah identitas komunitas.

Sekarang, tanya dirimuMengapa aku meremehkannya? Faktor pribadi apa yang membuatku tak melihat ini penting?

  • DAUR: Bagimu, dampaknya kecil karena rumahmu sudah rapi, dan urgensi kegiatan itu terasa dipaksakan.
  • NI: Kamu lebih menghargai waktu pribadi (nilai individual) daripada kepentingan kelompok.
  • JAPAN: Kamu skeptis apakah acara bersih-bersih benar-benar mencegah banjir.
  • BATU: Tujuanmu akhir pekan adalah rehat, bukan aktivitas sosial.

Apa yang terjadi?
Kamu bukan "salah" atau "benar". Tapi dengan memahami kedua sisi, kamu bisa memutuskan:

  • Tetap mengabaikan kegiatan ini, tapi dengan kesadaran bahwa ketidaknyamanan yang kamu rasakan ini tentang benturan nilai individu vs sosial.
  • Atau, ikut "sebagian" sebagai bentuk penghargaan pada komunitas, tanpa mengorbankan prioritas pribadi sepenuhnya.

Contoh Kedua: Saat Kamu Menganggap Hobi Menulis Tidak Penting

Orang-orang di sekitermu sering bilang: "Untuk apa menulis puisi? Cari kerja yang menghasilkan uang!" Tapi di hati kecilmu, menulis adalah cara bernapas. Mengapa mereka tak melihat ini penting? Dan mengapa kamu sendiri kadang meragukannya?

Meneropong perspektif mereka dengan DAUR-SO-NI-JAPAN-BATU:

  • DAUR: Mereka tak melihat dampak finansial langsung (Dampak) dan tak ada urgensi.
  • SO: Di komunitasmu, kesuksesan diukur dari materi, bukan ekspresi seni.
  • BATU: Budaya lokal menganggap seni sebagai "hiburan", bukan pekerjaan serius.

Lalu, selami faktor pribadimu yang meremehkan hobi ini:

  • NI: Di saat lelah, kamu mulai percaya bahwa "uang lebih penting daripada passion" (padahal ini bukan nilai aslimu).
  • JAPAN: Kamu ragu apakah menulis bisa memberimu masa depan yang stabil.
  • DAUR: Dampak emosional menulis terasa abstrak, sehingga mudah diabaikan.

Apa yang tersirat?
Ketika kamu sadar bahwa "meremehkan menulis" berasal dari tekanan sosial (SO, BATU) dan keraguan pribadi (JAPAN, DAUR), kamu bisa lebih tegas:

  • Tetap menulis sebagai prioritas tersembunyi, karena ia selaras dengan NI (nilai ekspresi diri).
  • Atau, mencari cara agar menulis memberimu DAUR (dampak konkret, seperti publikasi) untuk melegitimasi kepentingannya di mata orang lain.

Fungsi Sejati Akronim Ini: Membongkar Asumsi

DAUR-SO-NI-JAPAN-BATU bukan untuk menyudutkanmu dengan pertanyaan "mana yang lebih penting", tapi untuk:

  1. Memahami tekanan eksternal: Mengapa lingkunganmu menganggap A penting? Apa faktor DAUR-SO-BATU di baliknya?
  2. Menguak bias internal: Mengapa kamu mengabaikan A? Apakah karena NI-mu berbeda, atau karena JAPAN-mu tak melihat relevansinya?
  3. Membuat perdamaian: Dengan tahu akar perbedaan ini, kamu tak perlu lagi merasa bersalah karena mengabaikan sesuatu, atau memaksakan diri mengikuti standar orang lain.

Penutup: Kepentingan adalah Cermin Diri dan Lingkungan

Ketika kita bertanya, "Mengapa mereka menganggap ini penting, dan mengapa aku tidak?", sebenarnya kita sedang menggali dua hal:

  • Bagaimana lingkungan membentuk standar "penting" (melalui budaya, nilai sosial, urgensi kolektif).
  • Bagaimana hati nurani dan pengalaman pribadi membentuk sudut pandang kita.

Tak ada jawaban mutlak. Yang ada hanyalah kesadaran bahwa kepentingan adalah negosiasi antara dunia luar dan internal/bagian dalam diri kita. Dengan DAUR-SO-NI-JAPAN-BATU, kita bisa berhenti menyalahkan diri atau orang lain, lalu berkata:
"Oh, jadi ini alasan mereka... Dan ini alasanku. Sekarang, aku bisa memilih: tetap pada prinsipku yang baik/buruk, atau menyesuaikan diri — dengan mata terbuka."



Semoga alat ini membantumu melihat bahwa mengabaikan sesuatu bukanlah kegagalan, tapi tanda bahwa kau punya peta nilai yang unik. Selamat merenung, dan percayalah: dalam kebebasan memahami "kenapa", ada kekuatan untuk hidup lebih autentik. 🌱


 Artikel ini ditulis dengan bantuan ChatGPT dan Deepseek


Senin, 18 Desember 2023

Kenapa Doa Selesai Makan Pakai Kata "Kami"

Kenapa ya, padahal makannya sendiri tapi "doa selesai makan" kok pakai kata "kami"?
الحمد لله الذي أطعمنا وسقانا وجعلنا مسلمين.
"Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan, memberi kami minum, dan menjadikan kami sebagai orang Islam."

Begitu pula variasi doa mau tidur yang ini:
الحمد لله الذي أطعمنا وسقانا وآوانا فكم ممن لا كافي له ولا مؤوي
"Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan, memberi kami minum, memberi kami tempat berlindung. Betapa banyak orang yang tidak tercukupi kebutuhannya dan tidak punya tempat beristirahat."

Kan yang makan, saya; yang minum saya; yang lagi menikmati tempat tidur, saya; yang lagi berterimakasih, juga saya. Kenapa bawa-bawa orang lain?

Simpel sih, jawabannya. Semua orang bisa langsung menerka-nya. Yakni: 
1. Biar kita tidak egois dan biar kita juga belajar gembira dengan kegembiraan orang lain.
2. Kita bisa makan sekarang, karena semua orang yang memproduksi makanan, juga bisa makan kemarin.
3. Kita bisa makan sekarang, karena orang tua kita dan kakek nenek kita sampai Nabi Adam bisa makan. Coba kalau mereka dulu tidak bisa makan dan mati kelaparan, maka kita nggak bisa makan sekarang.

Maka dari itu, sudah selayaknya kita berkata "terimakasih Tuhan sudah memberi kami makan dan minum".

Apa sudah selesai? Belum, kalau seandainya doa selesai makan hanya cocok dengan menggunakan kata "kami", maka kenapa ada doa yang pakai kata "saya"? Bahkan kalau pakai versi itu, bisa dapat bonus "diampuni dosanya yang telah lalu":
 " مَنْ أَكَلَ طَعَامًا، فَقَالَ : الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنِي هَذَا وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّي وَلَا قُوَّةٍ ؛ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ ". 
"Barangsiapa yang makan, lalu langsung berkata, 'segala puji bagi Allah yang telah memberiku makanan ini dan menjadikannya rejeki untukku tanpa aku mampu menolak dan mengusahakannya sendiri', maka dosanya yang telah lalu, diampuni oleh Allah."

Hmmm...berarti bukan masalah "kami" atau "saya". 

Lalu faktor apa yang paling penting disitu? Mungkin faktor terpenting itu adalah "melepaskan nikmat/kesuksesan dari ego" dan "menyadari sumber sejati nikmat itu adalah gara-gara Tuhan". Bahasa kasarnya: sekian persen atau seluruh nikmat/kesuksesan hidup adalah gara-gara keberuntungan. Bukankah punya tangan lengkap adalah sebuah keberuntungan? Dengan Keberuntungan itu, kita bisa berusaha lalu kufur nikmat dengan mengaku-aku bahwa semua usaha itu adalah milik kita dan kita lah penyebab kesuksesan/nikmat yang kita terima. Tentu keyakinan semacam ini adalah dosa. Kemudian kita baca doa pelebur dosa ego itu dan kita mengakui bahwa semua nikmat ini adalah gara-gara Allah. Bukankah ini adalah sebuah pertobatan? Dan...bukankah tobat seperti itu secara tidak langsung menggugurkan dosa kufur nikmat tadi?

To be continued (klo masih hidup)

Tidak Sekedar Menyadari Kemiskinan Diri



"Kita bisa menyadari bahwa kita miskin tapi belum tentu kita mengerti bahwa kita miskin", kata Mas Hariri kepadaku. Aku diam dan menyangka bahwa ini akan menjadi pelajaran penting untukku. Aku berusaha diam dan mendengarkan.

Kemudian aku sadar bahwa Mas Hariri benar. Kami sama-sama tidak punya walaupun kadarnya berbeda. Kami juga sama-sama pernah dibully semasa sekolah, walaupun resikonya berbeda. Kami sama-sama pernah merasa bahwa cara orang tua mendidik salah. Kami sama-sama pernah merasa terkukung oleh keadaan walaupun bentuknya berbeda. Di atas semua itu, Mas Hariri yang lebih muda dariku, telah naik pada level pemahaman yang lebih tinggi dan membuat kaidah untuk memudahkan pemahaman terhadap fenomoena sosiologi ini. Aku harus mendengarkan.

BEgini penjelasan untuk kata-katanya yang ambigu itu: "untuk sadar bahwa kita nggak punya uang, itu mudah. Level yang susah adalah mengerti bahwa kita ini orang miskin tapi kita masih bisa begini dan begitu. Akhirnya, kita bisa bersyukur dan menikmati hidup." Mas Hariri yang belum bisa beli mobil, ternyata bisa menyopir mobil. Ia diminta menjadi sopir pribadi Gusnya dan sekarang dia bekerja sebagai sopir di lembaga ini yang jaraknya 35 km dari rumahnya. Saya yang nggak punya laptop selama kuliah, tapi bisa komputer (install windows, mengganti hardware yang rusak, sedikit koding, bikin web, dan semacamnya). Ketika saya sadar bahwa saya miskin tapi tidak mengertidan menghargai capaian-capaian maupun rahmat tuhan yang telah sampai kepada saya, tentu saya tidak bahagia dan tidak inovatif.

Sudah sepantasnya, saya tidak sekedar menyadari tapi juga mengerti bahwa saya adalah orang miskin yang mendapat banyak anugrah dari tuhan, baik berupa pencapaian pribadi maupun pencapaian yang tidak saya usahakan.

اللهم انفعنا بما علمتنا وعلمنا ما ينفعنا وارزقنا عملا متقبلا

رب اغفر لي ذنوبي ولوالدي وارحمهما كما ربياني صغيرا

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار 

وصلى الله على سيدنا محمد وعلى أله وصحبه وبارك وسلم والحمد لله رب العالمين. آمين


Sabtu, 04 Juni 2022

KENAPA TUHAN MENCIPTAKAN DUNIA YANG INDAH

 

Pagi ini, aku melihat wallpaper bing yang indah. Foto Banner Peak di California, USA. Foto itu punya hak cipta, jadinya saya pakai foto tempat itu yang lisensinya terbuka dari Unsplash

Saat pertama melihat foto pemandangan iini, saya kagum. Ya Allah, banyak ya tempat indah di dunia ini. Sementara itu, saya hanya hidup di dalam ruangan dan tidak pergi kemana-mana. Lalu, apa faidahnya Allah menciptakan alam kalau tidak saya nikmati.

Tiba-tiba terlintas di pikiranku, bahwa masak iya: tuhan menciptakan tempat-tempat indah untuk dinikmati dan dikunjungi. Bagaimana kalau Tuhan menciptakannya bukan untuk dinikmati seperti itu. Berhubung, tuhan ingin dikenal (hadis qudsi dhaif: كنت كنزا مخفيا فأردت أن أعرف فخلقت الخلق) dan jika hadis itu memang benar, maka berarti semua isi jagat raya ini bagaikan karya seorang seniman atau bagaikan puisi seorang yang kasmaran. Lalu bagaimana reaksimu nanti setelah bertemu tuhan.

Dengan segala keindahan foto ini dan foto pemandangan alam, bagaimana nanti kalau aku ketemu tuhan. Apa hanya mau bilang, bahwa ciptaan-Mu sungguh indah, Tuhan. Sudah lama ku melihat karya keindahan, tapi aku tetap tak mengenalmu, Tuhan.

Selasa, 21 September 2021

Apakah Adzan Mengganggu

Apakah Adzan Mengganggu
Terkadang suara azan memekakkan telinga. Bukan murni salah azannya sih tapi bisingnya. Jika speaker yang memperbesar suara azan diletakkan dekat dengan rumah tetangga, lalu volumenya dibuat paling keras, kemudian orang yang azan (muadzdzin) membuka mulut untuk azan dengan sekeras-kerasnya, ditambah lagi azan-nya dipanjang-panjangkan berlebihan, maka lengkap sudah penderitaan saya. Apalagi kalau sumber suara azan bukan satu saja dan semuanya sama-sama tidak peduli dengan polusi suara. 

Memang ada anjuran mengeraskan suara azan tapi kan juga ada larangan menyakiti tetangga. Bukankah ada anjuran untuk azan di tempat yang tinggi sehingga suara bisa menjangkau area yang jauh tapi tanpa berlebihan mengeraskan suara. Bukankah jika azannya di tempat tinggi, maka tetangga dekatnya nggak akan kebisingan seperti kalau dia azan tepat disebelah telinga tetangga. 

Azan bisa menjadi suara yang indah, mendayu-dayu. Volumenya cukupan, tidak terlalu keras sehingga tidak mengganggu, dan tidak terlalu pelan sehingga masih bisa terdengar jelas. Aku pun pernah menangis ketika mendengar azan yang merdu, memanggil-manggil, dan bernada rindu kepada Tuhan dan Nabi yang tak pernah ia jumpa di zaman akhir ini.

Betapa enaknya orang yang azan, setiap makhluk yang mendengarnya akan menjadi saksinya di akhirat. 
609 أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ قَالَ لَهُ : إِنِّي أَرَاكَ تُحِبُّ الْغَنَمَ وَالْبَادِيَةَ، فَإِذَا كُنْتَ فِي غَنَمِكَ أَوْ بَادِيَتِكَ فَأَذَّنْتَ بِالصَّلَاةِ، فَارْفَعْ صَوْتَكَ بِالنِّدَاءِ ؛ فَإِنَّهُ لَا يَسْمَعُ مَدَى صَوْتِ الْمُؤَذِّنِ جِنٌّ وَلَا إِنْسٌ وَلَا شَيْءٌ، إِلَّا شَهِدَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. قَالَ أَبُو سَعِيدٍ : سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
صحيح البخاري | كِتَابُ الْأَذَانِ | بَابُ رَفْعِ الصَّوْتِ بِالنِّدَاءِ. 
الجزء رقم :1، الصفحة رقم:125
Bahkan benda-benda kering dan basah memintakan ampun untuknya.
ولأبي داود والنسائي من طريق أبي يحيى عن أبي هريرة بلفظ (المؤذن يغفر له مدى صوته، ويشهد له كل رطب ويابس) ونحوه للنسائي وغيره من حديث البراء وصححه ابن السكن، 
[فتح الباري لابن حجر]

Namun bagaimana kalau muadzdzin berbuat zhalim dengan adzannya? Walaupun meninggikan suara dianjurkan, tapi kan tidak dengan usaha keras/berlebihan dan tidak menyakiti pendengar. Syarh hadisnya loh ada syarat begitu
وفي الحديث استحباب رفع الصوت بالأذان ليكثر من يشهد له ما لم يجهده أو يتأذى به
Kamu tahu lah kok bisa ada syarat itu, karena ada larangan menyakiti tetangga dan larangan menyakiti diri sendiri.

Kalau muadzdzin berbuat zalim dengan azan-nya, bukankah semua makhluk hidup dan benda mati akan menjadi saksi kezaliman-nya?

Kemudian kalau dia riya' atau menyombongkan diri dengan adzan, maka azan-nya itu malah tidak berpahala? Betapa ruginya, dia.

Oke...saya merasa impas ketika tahu orang yang azan secara zalim, justru akan tersiksa. Namun, saya atau orang-orang yang terzalimi ini dapat apa untuk kompensasi ketidaknyamanan yang kami rasa?

Sabar berpahala, sih. Namun, apakah ada yang lain?

Lho iya, ada dong. Bukankah setiap orang yang menjawab azan, akan deberi pahala dan kalau dia membaca doa setelah azan maka dia dapat syafaat dari Nabi? 
1039 - ﻭﻋﻦ ﺟﺎﺑﺮ - ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ: ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ - ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ﻗﺎﻝ: «ﻣﻦ ﻗﺎﻝ ﺣﻴﻦ ﻳﺴﻤﻊ اﻟﻨﺪاء: اﻟﻠﻬﻢ ﺭﺏ ﻫﺬﻩ اﻟﺪﻋﻮﺓ اﻟﺘﺎﻣﺔ، ﻭاﻟﺼﻼﺓ اﻟﻘﺎﺋﻤﺔ، ﺁﺕ ﻣﺤﻤﺪا اﻟﻮﺳﻴﻠﺔ، ﻭاﻟﻔﻀﻴﻠﺔ، ﻭاﺑﻌﺜﻪ ﻣﻘﺎﻣﺎ ﻣﺤﻤﻮﺩا اﻟﺬﻱ ﻭﻋﺪﺗﻪ، ﺣﻠﺖ ﻟﻪ ﺷﻔﺎﻋﺘﻲ ﻳﻮﻡ اﻟﻘﻴﺎﻣﺔ». ﺭﻭاﻩ اﻟﺒﺨﺎﺭﻱ
رياض الصالحين

Bukankah saat antara azan dan iqomah, doa adalah mustajab? Dia bisa berdoa meminta hal-hal baik untuk dirinya sendiri, keluarga, atau siapapun lah. 
1041 - ﻭﻋﻦ ﺃﻧﺲ - ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ - ﻗﺎﻝ: ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ - ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: «اﻟﺪﻋﺎء ﻻ ﻳﺮﺩ ﺑﻴﻦ اﻷﺫاﻥ ﻭاﻹﻗﺎﻣﺔ». ﺭﻭاﻩ ﺃﺑﻮ ﺩاﻭﺩ ﻭاﻟﺘﺮﻣﺬﻱ، (¬1) ﻭﻗﺎﻝ: «ﺣﺪﻳﺚ ﺣﺴﻦ».
رياض الصالحين

Dia kan juga terzalimi, sehingga doa orang zalim kan tidak ada penghalangnya menuju Allah.
1077 - ﻭﻋﻦ ﻣﻌﺎﺫ - ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ - ﻗﺎﻝ: ﺑﻌﺜﻨﻲ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ - ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ﺇﻟﻰ اﻟﻴﻤﻦ، ﻓﻘﺎﻝ: «ﺇﻧﻚ ﺗﺄﺗﻲ ﻗﻮﻣﺎ ﻣﻦ ﺃﻫﻞ اﻟﻜﺘﺎﺏ، ﻓﺎﺩﻋﻬﻢ ﺇﻟﻰ ﺷﻬﺎﺩﺓ ﺃﻥ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ اﻟﻠﻪ، ﻭﺃﻧﻲ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ، ﻓﺈﻥ ﻫﻢ ﺃﻃﺎﻋﻮا ﻟﺬﻟﻚ، ﻓﺄﻋﻠﻤﻬﻢ ﺃﻥ اﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ اﻓﺘﺮﺽ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺧﻤﺲ ﺻﻠﻮاﺕ ﻓﻲ ﻛﻞ ﻳﻮﻡ ﻭﻟﻴﻠﺔ، ﻓﺈﻥ ﻫﻢ ﺃﻃﺎﻋﻮا ﻟﺬﻟﻚ، ﻓﺄﻋﻠﻤﻬﻢ ﺃﻥ اﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ اﻓﺘﺮﺽ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺻﺪﻗﺔ ﺗﺆﺧﺬ ﻣﻦ ﺃﻏﻨﻴﺎﺋﻬﻢ ﻓﺘﺮﺩ ﻋﻠﻰ ﻓﻘﺮاﺋﻬﻢ، ﻓﺈﻥ ﻫﻢ ﺃﻃﺎﻋﻮا ﻟﺬﻟﻚ، ﻓﺈﻳﺎﻙ ﻭﻛﺮاﺋﻢ ﺃﻣﻮاﻟﻬﻢ، ﻭاﺗﻖ ﺩﻋﻮﺓ اﻟﻤﻈﻠﻮﻡ، ﻓﺈﻧﻪ ﻟﻴﺲ ﺑﻴﻦﻫﺎ ﻭﺑﻴﻦ اﻟﻠﻪ ﺣﺠﺎﺏ». ﻣﺘﻔﻖ ﻋﻠﻴﻪ
رياض الصالحين

Kalau dia baca 
ﺃﺷﻬﺪ ﺃﻥ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ اﻟﻠﻪ ﻭﺣﺪﻩ ﻻ ﺷﺮﻳﻚ ﻟﻪ، ﻭﺃﻥ ﻣﺤﻤﺪا ﻋﺒﺪﻩ ﻭﺭﺳﻮﻟﻪ، ﺭﺿﻴﺖ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﺭﺑﺎ، ﻭﺑﻤﺤﻤﺪ ﺭﺳﻮﻻ، ﻭﺑﺎﻹﺳﻼﻡ ﺩﻳﻨﺎ
ketika mendengar azan, maka dosanya diampuni.
1040 - ﻭﻋﻦ ﺳﻌﺪ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﻭﻗﺎﺹ - ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ - ﻋﻦ اﻟﻨﺒﻲ - ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ﺃﻧﻪ ﻗﺎﻝ: «ﻣﻦ ﻗﺎﻝ ﺣﻴﻦ ﻳﺴﻤﻊ اﻟﻤﺆﺫﻥ: ﺃﺷﻬﺪ ﺃﻥ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ اﻟﻠﻪ ﻭﺣﺪﻩ ﻻ ﺷﺮﻳﻚ ﻟﻪ، ﻭﺃﻥ ﻣﺤﻤﺪا ﻋﺒﺪﻩ ﻭﺭﺳﻮﻟﻪ، ﺭﺿﻴﺖ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﺭﺑﺎ، ﻭﺑﻤﺤﻤﺪ ﺭﺳﻮﻻ، ﻭﺑﺎﻹﺳﻼﻡ ﺩﻳﻨﺎ، ﻏﻔﺮ ﻟﻪ ﺫﻧﺒﻪ». ﺭﻭاﻩ ﻣﺴﻠﻢ. (¬1)
رياض الصالحين


Wah, saya secara pribadi merasa sudah cukup.
(وَذَرِ ٱلَّذِینَ ٱتَّخَذُوا۟ دِینَهُمۡ لَعِبࣰا وَلَهۡوࣰا وَغَرَّتۡهُمُ ٱلۡحَیَوٰةُ ٱلدُّنۡیَاۚ وَذَكِّرۡ بِهِۦۤ أَن تُبۡسَلَ نَفۡسُۢ بِمَا كَسَبَتۡ لَیۡسَ لَهَا مِن دُونِ ٱللَّهِ وَلِیࣱّ وَلَا شَفِیعࣱ وَإِن تَعۡدِلۡ كُلَّ عَدۡلࣲ لَّا یُؤۡخَذۡ مِنۡهَاۤۗ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ ٱلَّذِینَ أُبۡسِلُوا۟ بِمَا كَسَبُوا۟ۖ لَهُمۡ شَرَابࣱ مِّنۡ حَمِیمࣲ وَعَذَابٌ أَلِیمُۢ بِمَا كَانُوا۟ یَكۡفُرُونَ)
[Surat Al-An'am 70]
Terjemah copy paste:
Tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agamanya sebagai permainan dan senda gurau, dan mereka telah tertipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah (mereka) dengan Al-Qur`ān agar setiap orang tidak terjerumus (ke dalam neraka), karena perbuatannya sendiri. Tidak ada baginya pelindung dan pemberi syafaat (pertolongan) selain Allah. Dan jika dia hendak menebus dengan segala macam tebusan apa pun, niscaya tidak akan diterima. Mereka itulah orang-orang yang dijerumuskan (ke dalam neraka), disebabkan perbuatan mereka sendiri. Mereka mendapat minuman dari air yang mendidih dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka dahulu.

Jumat, 23 November 2018