Senin, 18 Desember 2023

Empat Rukun Tobat



Ketahuilah bahwa siapa pun yang berbicara atau melakukan yang haram, maka ia wajib untuk menyegerakan bertobat. Taubat memiliki tiga rukun: 
  • berhenti melakukan dosa seketika, 
  • menyesali apa yang telah dilakukan, dan 
  • bertekad untuk tidak kembali kepada maksiat  selamanya. 
Jika seseorang melakukan dosa yang berkaitan dengan hak seseorang, maka ada rukun keempat yang harus dilakukan, yaitu 
  • mengembalikan hak itu kepada pemiliknya atau mencari cara agar dibebaskan dari tanggungan tersebut.  
Ketika seseorang bertobat dari satu dosa, sebaiknya ia bertobat dari semua dosa. Namun, jika dia hanya membatasi tobatnya pada satu dosa, maka tidak apa-apa, tobatnya dari satu dosa itu tetap sah.

Jika dia bertobat dengan benar seperti yang telah disebutkan sebelumnya, kemudian dia kembali melakukan dosa itu di waktu yang lain, maka dia mendapatkan dosa baru karena maksiat yang kedua kalinya dan dia wajib bertobat dari maksiat yang kedua kalinya ini. Kemudian bagaimana status taubatnya dari dosa pertama? Taubatnya dari dosa pertama tidak batal. Ini adalah pendapat Ahlus Sunnah yang berbeda dengan pendapat Mu'tazilah dalam dua masalah ini. 

Sekian. Hanya karena Allah-lah, segala kesuksesan dapat terjadi.

Referensi: Al-Adzkar oleh Imam An-Nawawi, jilid 1/604 - Imam An-Nawawi (wafat 676 H).
١٩٤١- واعلم أن مَن تكلم بحرامٍ، أو فعله؛ وجب عليه المبادرة إلى التوبة، ولها ثلاثة أركانٍ: أن يقلع في الحال عن المعصية، وأن يندمَ على ما فعل، وأن يَعزِمَ ألاّ يعود إليها أبدًا، فإن تعلَّق بالمعصية حق آدمي وجب عليه مع الثلاثةِ رابعٌ، وهو ردُ الظلامةِ إلى صاحبها، أو تحصيل البراءةِ منها، وقد تقدمَ بيانُ هذا. [رقم: ١٧٥٣] .
١٩٤٢- وإذا تابَ مِنْ ذنبٍ، فينبغي أن يتوبَ من جميع الذنوب؛ فلو اقتصرَ على التوبةِ من ذنبٍ صحَّت توبتهُ منهُ؛ وإذا تابَ من ذنبٍ توبةً صحيحةً كما ذكرنا، ثُم عادَ إِلَيْهِ في وقتٍ، أَثِمَ بالثاني، وَوَجَبَ عليهِ التوبة منهُ، ولم تبطلْ توبتهُ من الأوّل؛ هذا مذهبُ أهل السنّة خلافًا للمعتزلةِ في المسألتين؛ وبالله التوفيقُ.

الأذكار للنووي ط ابن حزم ١/‏٦٠٤ — النووي (ت ٦٧٦)
Terjemah (dari Ai dan sudah saya perbaiki)

Kenapa Doa Selesai Makan Pakai Kata "Kami"

Kenapa ya, padahal makannya sendiri tapi "doa selesai makan" kok pakai kata "kami"?
الحمد لله الذي أطعمنا وسقانا وجعلنا مسلمين.
"Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan, memberi kami minum, dan menjadikan kami sebagai orang Islam."

Begitu pula variasi doa mau tidur yang ini:
الحمد لله الذي أطعمنا وسقانا وآوانا فكم ممن لا كافي له ولا مؤوي
"Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan, memberi kami minum, memberi kami tempat berlindung. Betapa banyak orang yang tidak tercukupi kebutuhannya dan tidak punya tempat beristirahat."

Kan yang makan, saya; yang minum saya; yang lagi menikmati tempat tidur, saya; yang lagi berterimakasih, juga saya. Kenapa bawa-bawa orang lain?

Simpel sih, jawabannya. Semua orang bisa langsung menerka-nya. Yakni: 
1. Biar kita tidak egois dan biar kita juga belajar gembira dengan kegembiraan orang lain.
2. Kita bisa makan sekarang, karena semua orang yang memproduksi makanan, juga bisa makan kemarin.
3. Kita bisa makan sekarang, karena orang tua kita dan kakek nenek kita sampai Nabi Adam bisa makan. Coba kalau mereka dulu tidak bisa makan dan mati kelaparan, maka kita nggak bisa makan sekarang.

Maka dari itu, sudah selayaknya kita berkata "terimakasih Tuhan sudah memberi kami makan dan minum".

Apa sudah selesai? Belum, kalau seandainya doa selesai makan hanya cocok dengan menggunakan kata "kami", maka kenapa ada doa yang pakai kata "saya"? Bahkan kalau pakai versi itu, bisa dapat bonus "diampuni dosanya yang telah lalu":
 " مَنْ أَكَلَ طَعَامًا، فَقَالَ : الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنِي هَذَا وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّي وَلَا قُوَّةٍ ؛ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ ". 
"Barangsiapa yang makan, lalu langsung berkata, 'segala puji bagi Allah yang telah memberiku makanan ini dan menjadikannya rejeki untukku tanpa aku mampu menolak dan mengusahakannya sendiri', maka dosanya yang telah lalu, diampuni oleh Allah."

Hmmm...berarti bukan masalah "kami" atau "saya". 

Lalu faktor apa yang paling penting disitu? Mungkin faktor terpenting itu adalah "melepaskan nikmat/kesuksesan dari ego" dan "menyadari sumber sejati nikmat itu adalah gara-gara Tuhan". Bahasa kasarnya: sekian persen atau seluruh nikmat/kesuksesan hidup adalah gara-gara keberuntungan. Bukankah punya tangan lengkap adalah sebuah keberuntungan? Dengan Keberuntungan itu, kita bisa berusaha lalu kufur nikmat dengan mengaku-aku bahwa semua usaha itu adalah milik kita dan kita lah penyebab kesuksesan/nikmat yang kita terima. Tentu keyakinan semacam ini adalah dosa. Kemudian kita baca doa pelebur dosa ego itu dan kita mengakui bahwa semua nikmat ini adalah gara-gara Allah. Bukankah ini adalah sebuah pertobatan? Dan...bukankah tobat seperti itu secara tidak langsung menggugurkan dosa kufur nikmat tadi?

To be continued (klo masih hidup)

Tidak Sekedar Menyadari Kemiskinan Diri



"Kita bisa menyadari bahwa kita miskin tapi belum tentu kita mengerti bahwa kita miskin", kata Mas Hariri kepadaku. Aku diam dan menyangka bahwa ini akan menjadi pelajaran penting untukku. Aku berusaha diam dan mendengarkan.

Kemudian aku sadar bahwa Mas Hariri benar. Kami sama-sama tidak punya walaupun kadarnya berbeda. Kami juga sama-sama pernah dibully semasa sekolah, walaupun resikonya berbeda. Kami sama-sama pernah merasa bahwa cara orang tua mendidik salah. Kami sama-sama pernah merasa terkukung oleh keadaan walaupun bentuknya berbeda. Di atas semua itu, Mas Hariri yang lebih muda dariku, telah naik pada level pemahaman yang lebih tinggi dan membuat kaidah untuk memudahkan pemahaman terhadap fenomoena sosiologi ini. Aku harus mendengarkan.

BEgini penjelasan untuk kata-katanya yang ambigu itu: "untuk sadar bahwa kita nggak punya uang, itu mudah. Level yang susah adalah mengerti bahwa kita ini orang miskin tapi kita masih bisa begini dan begitu. Akhirnya, kita bisa bersyukur dan menikmati hidup." Mas Hariri yang belum bisa beli mobil, ternyata bisa menyopir mobil. Ia diminta menjadi sopir pribadi Gusnya dan sekarang dia bekerja sebagai sopir di lembaga ini yang jaraknya 35 km dari rumahnya. Saya yang nggak punya laptop selama kuliah, tapi bisa komputer (install windows, mengganti hardware yang rusak, sedikit koding, bikin web, dan semacamnya). Ketika saya sadar bahwa saya miskin tapi tidak mengertidan menghargai capaian-capaian maupun rahmat tuhan yang telah sampai kepada saya, tentu saya tidak bahagia dan tidak inovatif.

Sudah sepantasnya, saya tidak sekedar menyadari tapi juga mengerti bahwa saya adalah orang miskin yang mendapat banyak anugrah dari tuhan, baik berupa pencapaian pribadi maupun pencapaian yang tidak saya usahakan.

اللهم انفعنا بما علمتنا وعلمنا ما ينفعنا وارزقنا عملا متقبلا

رب اغفر لي ذنوبي ولوالدي وارحمهما كما ربياني صغيرا

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار 

وصلى الله على سيدنا محمد وعلى أله وصحبه وبارك وسلم والحمد لله رب العالمين. آمين


Senin, 12 Maret 2018

BAHAYA DOSA

واعلم أن ضرر الذنوب في القلب كضرر السم في الأبدان
Ketahuilah bahwa bahaya dosa di dalam hati bagaikan bahaya racun dalam badan.
على اختلاف درجاتها في الضرر
Bahaya ini berbeda-beda sesuai kadar derajat dosa itu.
وليس في الدنيا والآخرة شر وداء إلا سببه الذنوب والمعاصى.
Tak ada satupun kejelekan dan penyakit di dunia dan akhirat kecuali sebabnya adalah dosa2 dan kemaksiatan.
وللمعاصى من الآثار القبيحة المذمومة المضرة بالقلب والبدن في الدنيا والآخرة ما لا يعلمه إلا الله تعالى.
Maksiat mempunyai dampak buruk, hina dan berbahaya bagi hati dan badan di dunia dan akhirat. Dampak buruk maksiat ini tidak diketahui secara pasti kecuali oleh Allah ta'ala.
فمنها
Berikut ini kemungkinan2 tentang dampak2 maksiat
حرمان علم النافع. لأن العلم نور يقذفه الله في القلب. والمعصية تطفع ذلك النور إن كان. أو تحول بينه وبين القلب إن لم يكن.
1. Terhalang dari ilmu yang manfaatnya sampai ke akhirat. Sebab, ilmu adalah cahaya yang Allah lemparkan di dalam hati. Jika sudah ada cahaya ilmu di hati, maka maksiat memadamkan cahaya ilmu itu. Jika belum ada cahaya ilmu di hati, maka maksiat menjadi penghalang di antara cahaya ilmu dan hati.
ومنها وحشة يجدها العاصى بينه وبين الله لا يوازيها ولا يقاربها وحشة البتة.
2. Dia merasakan sifat brutal/barbar/biadab/kejam/liar(tidak mau diatur) diantara dirinya dan Allah. Dia sama sekali tidak dapat menyejajarkannya dan tidak dapat menganggapnya mirip dengan sifat brutal manapun. Ini lebih liar (tidak mau diatur Tuhan).
ومنها تعسر أمره عليه. فلا يتوجه لأمر إلا يجده مغلقا دونه أو متعسرا عليه.
3. Urusannya jadi sulit buat dia. Akibatnya, dia nggak pernah menghadapi urusan kecuali jalan keluarnya tertutup atau susah. Jadi dia harus berusaha ekstraaa lelah, capek dan susah untuk membuka pemecahan masalahnya.
ومنها ظلمة يجدها في قلبه يحس بها كما يحس بظلمة الليل البهيم ،
4. Muncul kegelapan dalam hatinya bagaikan kegelapan malam hitam
وكلما قويت الظلمة ازدادت حيرته وظهرت الظلمة على وجهه بحيث لا يخفى على أحد من أهل البصائر.
Setiap kali kegrlapan itu bertambah kuat, maka bertambah pula kebingungannya dan kegelapan pasti muncul di wajahnya. Kegelapan itu terlihat jelas oleh orang yang terbuka mata hatinya.
ومنها أنها توهن القلب والبدن.
5. Melemahkan hati dan badan.
ومنها حرمان الطاعة ومحق بركة العمر.
6. Dijauhkan dari ketaatan dan dihilangkan dari berkah umur (capaian melebihi umur). Contoh umur berkah imam Nawawi. Umur beliau pendek tapi karyanya banyak. Sampai2 seorang orientalis heran bagaimana bisa karya sebanyak itu dihasilkan dalam umur yang pendek.
ومنها أن المعصية تورث الذلة وتفسد العقل فإنه نور والمعصية تطفئه.
7. Maksiat mengakibatkan kehinaan dan merusak akal. Karena itu adalah cahaya tapi maksiat memadamkannya.
ومنها أنها تزيل النعم وتجلب الفقر.
8. Maksiat menghilangkan nikmat2 dan memicu kefaqiran.
فما زالت من العبد نعمة إلا بذنب ولا حلت به نقمة إلا بذنب
Tidak ada nikmat yang hilang dari seorang hamba kecuali karena dosa. Tidak ada musibah yang singgah pada hamba kecuali karena dosa.
(وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ)
[Surat Asy-Syura 30]
Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).
lewat @QuranAndroid

Referensi:

Tanwirul qulub

Gambar dari pixabay

Hidayah, siapa yang punya

Hidayah, siapa yang punya

A: Kang, Angelina sondakh hafal 15 juz di penjara.
B: Duh, Gusti Allah memang bebas memberi cahaya dan bebas berkenalan dengan siapapun.
C: Iya, Cak. Tamara blaizenski dulu kristen. Nikah sama orang islam. Masuk Islam. Cerai. Nikah sama orang kristen protestan. Cerai. Tapi Tamara masih islam. Walaupun nggak boleh sih muslimah nikah dengan ahli kitab. Alhamdu lillah, akhirnya masih baik. Semoga.
اللهم اختم لنا بالإيمان وحسن الخاتمة
B:Aamiiin...
A: Sampean nangis, kang?
B: Mboten. Aku mung kelingan dawuh e syekh Hisyam Kabbani: kita harus membuat Allah Happy. Jangan sampai Allah unhappy (tdk bahagia) dengan kita.

Lha, jika Allah bahagia dengan kita, Allah pasti mau kenalan sama kita, kan? Kalaupun kita nggak pantas diajak kenalan, nanti Allah yang akan mempersiapkan kita pantas untuk dikenalkan ke Allah. Entah lewat penjara atau acting film-film religi ramadhan atau yang lain.

Kosok baline, kalau Allah nggak happy sama kita...
Meskipun kita di depan masjid, meskipun kita di dalam pondok, meskipun kita di jalan menuju surga, meskipun kita bersih dan necis,

Kita nggak akan dipanggil masuk, kan?