- berhenti melakukan dosa seketika,
- menyesali apa yang telah dilakukan, dan
- bertekad untuk tidak kembali kepada maksiat selamanya.
- mengembalikan hak itu kepada pemiliknya atau mencari cara agar dibebaskan dari tanggungan tersebut.
"Kita bisa menyadari bahwa kita miskin tapi belum tentu kita mengerti bahwa kita miskin", kata Mas Hariri kepadaku. Aku diam dan menyangka bahwa ini akan menjadi pelajaran penting untukku. Aku berusaha diam dan mendengarkan.
Kemudian aku sadar bahwa Mas Hariri benar. Kami sama-sama tidak punya walaupun kadarnya berbeda. Kami juga sama-sama pernah dibully semasa sekolah, walaupun resikonya berbeda. Kami sama-sama pernah merasa bahwa cara orang tua mendidik salah. Kami sama-sama pernah merasa terkukung oleh keadaan walaupun bentuknya berbeda. Di atas semua itu, Mas Hariri yang lebih muda dariku, telah naik pada level pemahaman yang lebih tinggi dan membuat kaidah untuk memudahkan pemahaman terhadap fenomoena sosiologi ini. Aku harus mendengarkan.
BEgini penjelasan untuk kata-katanya yang ambigu itu: "untuk sadar bahwa kita nggak punya uang, itu mudah. Level yang susah adalah mengerti bahwa kita ini orang miskin tapi kita masih bisa begini dan begitu. Akhirnya, kita bisa bersyukur dan menikmati hidup." Mas Hariri yang belum bisa beli mobil, ternyata bisa menyopir mobil. Ia diminta menjadi sopir pribadi Gusnya dan sekarang dia bekerja sebagai sopir di lembaga ini yang jaraknya 35 km dari rumahnya. Saya yang nggak punya laptop selama kuliah, tapi bisa komputer (install windows, mengganti hardware yang rusak, sedikit koding, bikin web, dan semacamnya). Ketika saya sadar bahwa saya miskin tapi tidak mengertidan menghargai capaian-capaian maupun rahmat tuhan yang telah sampai kepada saya, tentu saya tidak bahagia dan tidak inovatif.
Sudah sepantasnya, saya tidak sekedar menyadari tapi juga mengerti bahwa saya adalah orang miskin yang mendapat banyak anugrah dari tuhan, baik berupa pencapaian pribadi maupun pencapaian yang tidak saya usahakan.
اللهم انفعنا بما علمتنا وعلمنا ما ينفعنا وارزقنا عملا متقبلا
رب اغفر لي ذنوبي ولوالدي وارحمهما كما ربياني صغيرا
ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
وصلى الله على سيدنا محمد وعلى أله وصحبه وبارك وسلم والحمد لله رب العالمين. آمين
Referensi:
Tanwirul qulub
Gambar dari pixabay

A: Kang, Angelina sondakh hafal 15 juz di penjara.
B: Duh, Gusti Allah memang bebas memberi cahaya dan bebas berkenalan dengan siapapun.
C: Iya, Cak. Tamara blaizenski dulu kristen. Nikah sama orang islam. Masuk Islam. Cerai. Nikah sama orang kristen protestan. Cerai. Tapi Tamara masih islam. Walaupun nggak boleh sih muslimah nikah dengan ahli kitab. Alhamdu lillah, akhirnya masih baik. Semoga.
اللهم اختم لنا بالإيمان وحسن الخاتمة
B:Aamiiin...
A: Sampean nangis, kang?
B: Mboten. Aku mung kelingan dawuh e syekh Hisyam Kabbani: kita harus membuat Allah Happy. Jangan sampai Allah unhappy (tdk bahagia) dengan kita.
Lha, jika Allah bahagia dengan kita, Allah pasti mau kenalan sama kita, kan? Kalaupun kita nggak pantas diajak kenalan, nanti Allah yang akan mempersiapkan kita pantas untuk dikenalkan ke Allah. Entah lewat penjara atau acting film-film religi ramadhan atau yang lain.
Kosok baline, kalau Allah nggak happy sama kita...
Meskipun kita di depan masjid, meskipun kita di dalam pondok, meskipun kita di jalan menuju surga, meskipun kita bersih dan necis,
Kita nggak akan dipanggil masuk, kan?