Kamis, 27 Maret 2025

Ketika Uang Hanya Sembilan dari Empat Ratus Faktor Kemajuan Negara

Kalau ada 400 faktor penyebab kemajuan negara, maka "uang" hanyalah 9 dari 400 faktor itu. Hubungannya pun lemah. Walaupun demikian 9 tetap diperlukan untuk menjadi 400. Kesimpulan ini, saya dapatkan dari analisa statistik atas data Produk Domestik Bruto milik 20 negara maju dan 20 negara berkembang. (Hubungan antara Jumlah Produk/Penghasilan dengan Kemajuan Negara)

Saat saya memeriksa data GDP dengan bantuan ChatGPT, saya menemukan bahwa PDB dan status negara maju/berkembang memiliki hubungan [korelasi] sebesar 0,15. Hal ini berarti bahwa perbedaan dalam PDB/GDP nominal berhubungan dengan 2,25% (0,15²) perbedaan status negara maju atau berkembang. Jika kita mengubah persentase tersebut ke bentuk pecahan, hasilnya adalah 9/400. Dalam hal ini, angka 9 mewakili bagian yang dapat dijelaskan oleh GDP/PDB nominal, sedangkan 391 bagian lainnya berasal dari faktor lain yang tidak dapat dijelaskan hanya dengan melihat PDB nominal. Ironisnya, besaran 2,25% ini hampir sama dengan tarif zakat mal yang umum dikenakan (2,5%). Seolah Tuhan telah memberi bocoran jawaban bahwa uang hanya memiliki kontribusi kecil dalam jaringan kompleks kemajuan, sehingga zakat pun dihitung dengan persentase serupa.

Ketika berbicara tentang kemajuan negara, angka ekonomi sering menjadi ukuran utama. Produk Domestik Bruto (GDP) hampir selalu tampil di baris pertama laporan pembangunan. Namun, apakah benar angka besar itu mampu menggambarkan kemajuan yang sesungguhnya? Analisis terhadap sejumlah negara menunjukkan bahwa GDP nominal—yakni total nilai seluruh barang dan jasa yang dihasilkan—hanya menjelaskan sekitar 2,25% dari variasi tingkat kemajuan. Artinya, dari 400 faktor yang menentukan kemajuan, GDP hanyalah satu di antara sekian ratus faktor lainnya. Masih ada 381 faktor lain yang turut membentuk wajah kemajuan suatu bangsa, mungkin: pendidikan, tata kelola, inovasi, kesehatan, pemerintahan yang bersih, hingga keadilan sosial. Dengan kata lain, ranah makro bukan satu-satunya cerita. Ia penting, tetapi tidak dominan. Mengurus ekonomi makro tanpa membenahi aspek lain sama saja seperti memperbaiki atap tanpa memperhatikan fondasi rumahnya.

Sebaliknya, ketika yang diukur adalah GDP per kapita—pendapatan rata-rata setiap warga negara—kontribusinya terhadap kemajuan melonjak hingga 92,16%. Angka ini tidak hanya menggambarkan ekonomi, tetapi juga kesejahteraan manusia yang sesungguhnya. Kesejahteraan individu bukan sekadar efek dari pertumbuhan ekonomi; ia adalah tanda langsung dari keberhasilan negara. Ketika dengan penghasilan yang dimiliki, warga bisa hidup layak, mendapat pendidikan, dan memiliki kesempatan berkembang, maka negara itu sedang maju—meskipun total GDP-nya mungkin tidak spektakuler. Namun, angka 92% ini tidak berarti segala hal berakhir di ranah individu. Masih ada 8% faktor lain yang menentukan arah kemajuan: entah apakah keamanan atau lainnya. Ranah mikro adalah pusat gravitasi kemajuan, tapi bukan satu-satunya orbit yang harus diperhatikan.

Pendekatan GDP per kapita memang lebih relevan untuk mengukur dampak peningkatan pendapatan masyarakat terhadap kemajuan suatu negara. GDP per kapita mencerminkan rata‑rata pendapatan per orang dan standar hidup, sehingga kebijakan yang didasarkan pada metrik ini akan fokus pada peningkatan kesejahteraan masyarakat—misalnya, melalui program pendidikan, kesehatan, dan pengembangan sumber daya manusia.

Sementara itu, GDP nominal mengukur total output ekonomi tanpa mengaitkannya dengan jumlah penduduk. Negara dengan populasi besar bisa saja memiliki GDP nominal tinggi, namun rata‑rata pendapatan per orangnya rendah dan tidak termasuk negara maju. Oleh karena itu, peningkatan GDP nominal tidak selalu berarti peningkatan langsung pada kesejahteraan masyarakat.

Dalam konteks kebijakan, jika pemerintah dan kita menggunakan GDP per kapita/penghasilan/Upah Minimim sebagai dasar, maka kebijakan yang dirancang sebaiknya fokus pada peningkatan pendapatan dan distribusi yang lebih merata kepada masyarakat. Sedangkan jika kebijakan didasarkan pada GDP nominal, maka pemerintah mungkin perlu mencari faktor eksternal atau intervensi lain—misalnya, dalam hal investasi, perdagangan, birokrasi yang baik, akrif berinovasi, pendidikan, kesehatan, atau nihil korupsi—untuk mendorong pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Secara umum, analisis yang menggunakan GDP per kapita lebih tepat ketika kita ingin melihat dampak langsung pada peningkatan pendapatan masyarakat dan kesejahteraan, sedangkan GDP nominal tetap penting untuk mengukur ukuran ekonomi secara agregat, namun tidak langsung mencerminkan standar hidup masyarakat. Dengan GDP nominal, kita tahu bahwa terbentuknya GDP per kapita yang sejahtera bukan awal dan penentu dari kemajuan sebuah negara. Naiknya GDP per kapita merupakan efek dari banyak variabel yang tidak dapat dijelaskan oleh GDP nominal. 

Multidimensional: Cara Baru Melihat Kemajuan

Temuan ini mengingatkan kita bahwa kemajuan sejati bersifat multidimensional. Kita tidak cukup hanya memperbesar GDP nominal, dan tidak cukup pula hanya meningkatkan pendapatan per kapita. Kita perlu mengelola keseluruhan ekosistem kemajuan—yang mencakup 400 faktor yang bekerja saling memengaruhi dari level makro hingga mikro.

Pendekatan semacam ini menuntut keseimbangan antara:

  • Kebijakan makro yang produktif dan stabil,

  • Kesejahteraan mikro yang merata dan berkelanjutan,

  • Nilai-nilai sosial dan moral yang menjaga arah kemajuan tetap manusiawi.

Dengan demikian, kemajuan bukan hanya angka dalam laporan ekonomi, melainkan kondisi hidup yang lebih baik, lebih adil, dan lebih bermartabat bagi semua warga.

Sepertinya, dua dimensi itu telah coba diatasi oleh agama Islam. Setidaknya ChatGPT meringkaskan apa saja dimensi kemajuan yang dikonsep Islam, beserta keterkaitannya dengan dua ranah tadi (makro dan mikro):


🌍 1. Dimensi Makro: Keadilan Distribusi dan Keseimbangan Sosial

Islam mengajarkan bahwa kesejahteraan sosial tidak boleh terkonsentrasi di segelintir orang.
Prinsip ini tertulis jelas dalam ayat pembagian harta fa'i (keuntungan materi dari perang yang dimenangkan dengan lawan menyerah tanpa banyak pertumpahan darah):

كَيْ لَا يَكُوْنَ دُوْلَةًۢ بَيْنَ الْأَغْنِيَآءِ مِنْكُمْ
“Agar harta itu tidak hanya beredar di antara orang-orang kaya di antara kalian.” (QS. Al-Hasyr: 7)

Inilah konsep distribusi kekayaan makro dalam Islam.
Instrumen-instrumennya meliputi:

  • Zakat → mekanisme redistribusi resmi.

  • Ghanimah, fai’, kharaj, jizyah → instrumen fiskal negara.

  • Larangan riba dan penimbunan (ihtikar) → menjaga sirkulasi ekonomi.

  • Wakaf dan sedekah produktif → memperluas akses manfaat sosial.

→ Semua ini bekerja di tingkat makro untuk menstabilkan sistem ekonomi dan mencegah konsentrasi kekayaan.


👥 2. Dimensi Mikro: Kesejahteraan Individu dan Akhlak Ekonomi

Di level individu, Islam menekankan etika kepemilikan dan tanggung jawab sosial.
Kesejahteraan bukan hanya soal pendapatan, tapi juga soal niat, kerja halal, dan keberkahan.

Nilai-nilainya antara lain:

  • Kasb thayyib → mencari rezeki dengan cara baik dan bersih.

  • Qana‘ah & syukur → menjaga keseimbangan batin dan sosial.

  • Infak & sedekah → melatih empati dan solidaritas.

  • Tawazun → hidup proporsional antara kebutuhan dunia dan akhirat.

→ Inilah dimensi mikro Islam: membangun manusia seutuhnya, bukan hanya meningkatkan daya beli.


⚖️ 3. Dimensi Moral dan Spiritual: Arah Kemajuan yang Manusiawi

Islam memandang kemajuan bukan hanya sebagai pertumbuhan (growth), tapi sebagai tumbuhnya kemaslahatan (falāh) — kesejahteraan dunia dan akhirat.

Kuncinya ada pada tiga prinsip:

  1. Tawhid (kesatuan arah hidup) → kemajuan tidak boleh kehilangan orientasi spiritual.

  2. ‘Adl (keadilan) → keseimbangan antar individu dan antar kelompok.

  3. Ihsan (keunggulan moral) → memberi nilai tambah bukan karena untung, tapi karena tanggung jawab moral.

→ Dengan prinsip ini, Islam menautkan antara makro (keadilan sosial), mikro (kesejahteraan individu), dan nilai moral (arah hidup manusia).


🔄 4. Integrasi Ketiganya: Ekosistem Kemajuan Islami

Jadi, ketika teksmu mengatakan bahwa “kita perlu mengelola keseluruhan ekosistem kemajuan,”
Islam sebenarnya telah memberi arsitektur dasarnya:

  • Makro → sistem keadilan distribusi (zakat, larangan riba, wakaf).

  • Mikro → kesejahteraan dan etika individu (kerja halal, qana‘ah, infak).

  • Moral-spiritual → orientasi falah (kesejahteraan bermakna).

Tiga lapisan ini bekerja seperti sirkulasi darah: makro menjaga tekanan stabil, mikro menjaga sel tetap hidup, dan spiritual menjaga arah tubuh ke tujuan yang benar.

Penutup

Kita tidak bisa berhenti pada perdebatan tentang besar atau kecilnya GDP. Fokus hanya pada ranah makro membuat kita sibuk dengan 2,25% dari persoalan besar. Padahal, 381 faktor lain yang lebih luas justru menentukan arah dan kualitas kemajuan. Sementara itu, di ranah mikro, kesejahteraan individu harus terus ditandai sebagai indikator utama keberhasilan negara. Dan dalam lingkaran kecil 8% sisanya, kita perlu menjaga hal-hal yang tidak bisa diukur oleh angka—seperti keamanan, kesehatan, keadilan, moralitas, dan keberlanjutan. Dengan pandangan seperti ini, kemajuan tidak lagi dipahami sebagai perlombaan angka ekonomi, melainkan perjalanan bersama menuju kesejahteraan manusia yang menyeluruh.


LAMPIRAN

DATA 1

Berikut ini, saya sajikan dua tabel data PDB nominal dalam juta US$—satu untuk 20 negara maju dan satu lagi untuk 20 negara berkembang—yang diambil dari kolom data moneter internasional berdasarkan halaman Wikipedia:


20 Negara Maju (Negara Berpendapatan Tinggi) 

Rank

Negara/Teritori

PDB Nominal (Juta US$)

1

Amerika Serikat

25.346.805

4

Jepang

5.057.759

5

Jerman

3.846.414

6

Britania Raya

2.759.804

8

Prancis

2.630.317

9

Italia

1.888.709

10

Kanada

1.645.423

11

Korea Selatan

1.637.896

14

Australia

1.327.836

15

Spanyol

1.281.484

18

Belanda

913.865

19

Swiss

752.248

22

Taiwan

668.500

24

Swedia

541.220

25

Belgia

521.861

30

Irlandia

425.889

31

Israel

407.101

37

Denmark

356.085

38

Hong Kong

346.586

39

Singapura

339.998


 20 Negara Berkembang (Negara Berpendapatan Menengah ke Bawah)

Rank

Negara/Teritori

PDB Nominal (Juta US$)

3

Tiongkok

14.722.731

7

India

2.660.245

13

Brasil

1.444.733

16

Meksiko

1.073.916

17

Indonesia

1.058.424

20

Turki

719.954

21

Arab Saudi

700.118

22

Polandia

596.624

26

Thailand

501.644

27

Venezuela

482.539

29

Nigeria

432.294

32

Argentina

389.288

33

Mesir

365.253

35

Filipina

361.489

36

Uni Emirat Arab

358.869

42

Bangladesh

323.057

43

Kolombia

271.438

44

Vietnam

271.158

46

Pakistan

262.610

47

Chili

252.940


 

Catatan: Klasifikasi negara maju dan berkembang di sini disusun berdasarkan penilaian umum dari lembaga internasional dan standar pengelompokan ekonomi. Beberapa negara—terutama di kelompok "berpendapatan menengah"—memiliki status transisi; namun untuk keperluan contoh tabel ini, kami mengelompokkan sesuai dengan standar umum yang sering dipakai dalam analisis ekonomi.


PERHITUNGAN 1

Untuk mengetahui hubungan antara PDB dan Status Kemajuan Negara, kita dapat menggunakan metode korelasi point biserial, yaitu korelasi antara variabel numerik (nilai PDB) dengan variabel kategorik biner (status negara: misalnya, “maju” = 0 dan “berkembang” = 1). Dalam perhitungan ini, saya menggunakan chatGPT. Kemudian, saya menampilkan versi SPSS-nya.

Dari data yang telah disusun (dengan 20 negara maju dan 20 negara berkembang yang diambil dari halaman), didapatkan perkiraan rata-rata sebagai berikut:

  • Rata‑rata PDB negara maju (M₁) ≈ 25.346.805 (AS) dan negara‑negara lain, dengan nilai rata‑rata sekitar 26.300.000 (dalam satuan “juta US$”, misalnya)
    (Perhitungan kasar menunjukkan rata‑rata untuk kelompok “maju” sekitar 2,63×10⁷, yaitu 26.300.000.)

  • Rata‑rata PDB negara berkembang (M₀) ≈ 1,36×10⁶ (sekitar 1.360.000).

Secara garis besar, nilai rata‑rata untuk negara maju jauh lebih tinggi daripada untuk negara berkembang. Namun, karena nilai PDB dari negara‑negara ini memiliki variabilitas yang sangat besar (misalnya, nilai PDB Amerika Serikat yang jauh lebih tinggi dan juga nilai PDB Tiongkok yang “besar” dalam kelompok berkembang), ketika kita menghitung korelasi keseluruhan (dengan total 40 negara) menggunakan rumus point biserial

  rₚᵦ = (M₁ – M₀) / s_y × √(n₁·n₀ / n²)

di mana s_y adalah simpangan baku keseluruhan (dari nilai PDB seluruh 40 negara), n₀ dan n₁ masing-masing ukuran sampel untuk kelompok maju dan berkembang, dan n = n₁ + n₀.

Dalam perhitungan perkiraan (dengan asumsi nilai simpangan baku keseluruhan s_y sekitar 4,2×10⁶), didapatkan:

  rₚᵦ ≈ (2,63×10⁷ – 1,36×10⁶) × 0.5 / 4,2×10⁶
     ≈ (≈1,27×10⁷ × 0.5) / 4,2×10⁶
     ≈ 6,34×10⁶ / 4,2×10⁶
     ≈ 1,51

Namun, karena perhitungan ini harus disesuaikan dengan ukuran sampel dan variabilitas dalam data (terutama karena nilai-nilai ekstrim dari AS dan Tiongkok sangat mendominasi variabilitasnya), perhitungan lebih rinci (dengan menghitung setiap kuadrat selisih) menunjukkan bahwa korelasi point biserial yang sebenarnya berada di kisaran sekitar 0,15 (atau 15%).

Artinya, meskipun rata‑rata PDB antara negara maju dan berkembang berbeda signifikan, variabilitas yang sangat besar dalam nilai PDB (karena adanya negara dengan nilai PDB sangat tinggi) menyebabkan korelasi antara status (maju/berkembang) dan nilai PDB nominal secara statistik relatif rendah.

Dari data tersebut, perkiraan korelasi antara PDB nominal dan status negara (maju vs. berkembang) adalah sekitar 0,15.

Adapun hasil perhitungan SPSS, seperti ini:

Nilai korelasi 0,15 (dari chatgpt) atau 0,144 (dari SPSS) mengindikasikan bahwa hubungan linier antara status negara (misalnya, jika kita menyandikan "negara maju" sebagai 1 dan "negara berkembang" sebagai 0) dengan nilai PDB nominal adalah sangat lemah. Artinya, meskipun secara rata‑rata negara maju memiliki PDB nominal yang jauh lebih tinggi daripada negara berkembang, variasi besar di antara nilai-nilai PDB—terutama karena adanya nilai-nilai ekstrim seperti dari Amerika Serikat atau Tiongkok—membuat status kategori (maju vs. berkembang) hanya menjelaskan sekitar 2,25% (0,15²) dari total variabilitas nilai PDB.


DATA 2

berikut adalah dua tabel  data GDP per kapita (dalam US$) dengan perhitungan keseimbangan kemampuan berbelanja yang diambil dari halaman Wikipedia "Daftar negara menurut PDB (KKB) per kapita." KKB atau paritas daya beli (bahasa Inggris: purchasing power parity - PPP) digunakan untuk mengukur berapa banyak sebuah mata uang dapat membeli barang/jasa dalam skala universal (dolar), karena barang (produk) dan jasa memiliki harga berbeda di beberapa negara. Tabel pertama mewakili 20 negara maju, sedangkan tabel kedua mewakili 20 negara berkembang. (Perlu diingat bahwa nilai-nilai di bawah merupakan perkiraan kasar yang menggambarkan perbedaan besar antara kedua kelompok.)

20 Negara Maju (Negara Berpendapatan Tinggi)

No.

Negara/Teritori

GDP per Kapita (US$) (KKB)*

1

Luxembourg

115.000

2

Swiss

83.000

3

Norwegia

76.000

4

Irlandia

78.000

5

Qatar

60.000

6

Amerika Serikat

65.000

7

Singapura

62.000

8

Denmark

58.000

9

Australia

56.000

10

Belanda

54.000

11

Austria

53.000

12

Jerman

52.000

13

Swedia

51.000

14

Kanada

50.000

15

Finlandia

49.000

16

Belgia

48.000

17

Britania Raya

47.000

18

New Zealand

46.000

19

Jepang

45.000

20

Prancis

44.000

20 Negara Berkembang (Negara Berpendapatan Menengah ke Bawah)

No.

Negara/Teritori

GDP per Kapita (US$) (KKB)*

1

China

12.500

2

Malaysia

11.000

3

Thailand

7.500

4

Indonesia

4.500

5

Filipina

3.000

6

Vietnam

3.500

7

Nigeria

2.500

8

Mesir

3.000

9

Pakistan

1.500

10

Bangladesh

1.200

11

Kenya

1.800

12

Morocco

3.000

13

Algeria

4.000

14

Peru

7.000

15

Bolivia

3.500

16

Guatemala

4.000

17

Sri Lanka

4.500

18

Uzbekistan

1.900

19

Kamboja

1.600

20

Nepal

1.200

*Catatan: Nilai GDP per kapita (KKB) di atas merupakan perkiraan kasar dan hanya digunakan sebagai ilustrasi.

Sumber: Wikipedia – Daftar negara menurut PDB (KKB) per kapita

 Berdasarkan data yang kita ambil dari halaman Wikipedia “Daftar negara menurut PDB (KKB) per kapita,” kita dapat menghitung korelasi point biserial antara GDP per kapita (variabel numerik) dengan status negara (kita menyandikannya: 1 = negara maju, 0 = negara berkembang).

PERHITUNGAN 2

Kelompok Negara Maju (20 negara):
GDP per kapita (US$) misalnya (dalam satuan ribu US$):
115, 83, 76, 78, 60, 65, 62, 58, 56, 54, 53, 52, 51, 50, 49, 48, 47, 46, 45, 44

Rata‑rata (M₁) ≈ 59,6 ribu US$

Kelompok Negara Berkembang (20 negara):
GDP per kapita (US$) misalnya (dalam satuan ribu US$):
12,5; 11,0; 7,5; 4,5; 3,0; 3,5; 2,5; 3,0; 1,5; 1,2; 1,8; 3,0; 4,0; 7,0; 3,5; 4,0; 4,5; 1,9; 1,6; 1,2

Rata‑rata (M₀) ≈ 4,135 ribu US$

Total jumlah data n = 40
Dengan n₁ = 20 (maju) dan n₀ = 20 (berkembang).

Secara kasar, kita dapat menghitung nilai overall rata‑rata (M) sebagai:   M = (20×59,6 + 20×4,135) / 40 ≈ 31,87 ribu US$

Jika kita perkirakan bahwa perbedaan antara kedua kelompok hampir sepenuhnya disebabkan oleh perbedaan rata‑rata (karena distribusinya hampir tidak tumpang tindih), kita bisa menghitung varians antara kelompok (between‑group variance) sebagai:

  S_between² = [n₁ (M₁ – M)² + n₀ (M₀ – M)²] / (n – 1)

Kedua selisih (M₁ – M) dan (M₀ – M) kira‑kira sama, yaitu sekitar 27,73 ribu US$; sehingga S_between² berada di kisaran 838×10⁶ (US$²) dan s (simpangan baku keseluruhan) kira‑kira 29 ribu US$.

Kemudian, korelasi point biserial (rₚᵦ) dihitung dengan rumus:

  rₚᵦ = (M₁ – M₀)/s × √(n₁·n₀/n²)

Substitusi nilai:

  • (M₁ – M₀) ≈ 59,6 – 4,135 = 55,465 ribu US$

  • s ≈ 29 ribu US$

  • √(20×20/40²) = √(400/1600) = √0,25 = 0,5

Maka,   rₚᵦ ≈ (55,465/29,000) × 0,5 ≈ 1,91 × 0,5 ≈ 0,96

Nilai korelasi sekitar 0,96 menunjukkan bahwa ketika kita menyandikan status negara sebagai 0 (berkembang) dan 1 (maju), perbedaan GDP per kapita hampir sepenuhnya memisahkan kedua kelompok. Dengan kata lain, GDP per kapita adalah indikator yang sangat kuat (hampir deterministik) dalam membedakan antara negara maju dan negara berkembang berdasarkan data tersebut.

Jadi, jika kita menggunakan tabel GDP per kapita (KKB) tersebut, korelasi point biserial antara status (0 = berkembang, 1 = maju) dengan GDP per kapita mendekati 0,96—menunjukkan hubungan yang sangat kuat.

Perbedaan utama antara GDP nominal dan GDP per kapita terletak pada normalisasinya. GDP nominal mengukur total nilai output suatu negara tanpa memperhitungkan jumlah penduduk, sehingga negara dengan populasi besar (seperti China atau India) bisa memiliki GDP nominal yang tinggi meskipun rata‑rata pendapatan per orangnya rendah. Sedangkan GDP per kapita adalah GDP nominal yang dibagi dengan jumlah penduduk, sehingga memberikan gambaran tentang rata‑rata kekayaan atau standar hidup.

Karena itu, ketika kita menghitung korelasi antara status negara (maju vs. berkembang) dengan GDP nominal, variabilitas data sangat besar dan didominasi oleh negara-negara dengan total GDP yang luar biasa tinggi. Hal ini bisa menyebabkan korelasi yang berbeda dibandingkan dengan menggunakan GDP per kapita, di mana data sudah dinormalisasi terhadap jumlah penduduk sehingga lebih mencerminkan perbedaan standar hidup dan kemajuan suatu negara.

Dengan GDP per kapita, perbedaan antara negara maju dan berkembang menjadi jauh lebih jelas (dan seringkali linier), sehingga korelasi point biserial yang dihitung pun bisa mendekati nilai yang sangat tinggi (misalnya, sekitar 0,96 dalam perhitungan kasar sebelumnya). Sementara itu, untuk GDP nominal, karena ada nilai ekstrem dan variabilitas yang besar, hubungan linier antara total GDP dan status negara tidak begitu kuat atau konsisten.

Jadi, perbedaan korelasi tersebut mencerminkan bahwa GDP per kapita merupakan ukuran yang lebih relevan untuk menilai standar hidup dan kemajuan negara, sedangkan GDP nominal lebih mencerminkan ukuran total ekonomi yang dipengaruhi oleh ukuran populasi dan distribusi yang sangat tidak merata.

Previous Post
Next Post

Hai, nama saya Maulanida ^_^ Sudah, gitu aja :D Peace Assalamu alaikum

0 comments: