Kesampingkan pikiran "apakah jika semua siswa Indonesia paham ini, maka Indonesia akan menjadi negara maju". Langsung kerjakan dan mengajar sebaik-baiknya. Nanti kalau sudah agak selesai, kita pikirkan lagi.
Hari ini, saya merasa mengajar dengan tidak baik. It's just my common feeling, when I teach. Aku tidak punya persiapan, aku tidak baca buku, aku tidak merancang metode mengajar. Aku hanya berusaha datang di sekolah tepat waktu, membawa buku, meminjam proyektor, dan mengunakan kemampuan otak untuk improvisasi secara spontan saat mengajar.
Lalu, saat aku ingin menampilkan youtube untuk mencari kamera obscura di layar proyektor, aku melihat gambar unik. Sebuah gambar video berjudul "Guru Tak Paham RPP, Siswa Jadi Korban". Aku terhenyak dan akhirnya aku berencana menyusun materi yang asik buat mengajar IPA minggu depan.
- Iris and Ciliary Body - Javalab (simulasi iris membuka dan menutup pupil; lalu simulasi otot siliars menebalkan dan memipihkan lensa mata.
- See the Light - Javalab (simulasi bagaimana gambar ditampilkan terbalik di dalam mata)
- Correction of Near-sightedness & Far-sightedness - Javalab (simulasi koreksi fokus pada mata rabun jauh dan mata rabun dekat)
- Connections of Neuron (nervous system, neural network) - Javalab (ilustrasi saraf dan simulasi bagaimana sinyal dikirim ke otak)
- Cochlear and Audible Frequency - Javalab (simulasi suara yang bisa didengar manusia dan bagaimana keadaan telinga ketika mendengarnya)
- Reaction time measuring (visual, auditory, tactile) - Javalab (simulasi perbedaan kecepatan respon pendengaran dan penglihatan)
Melalui simulasi interaktif di Javalab, kita bisa menjelajahi keajaiban sistem indra dan saraf manusia dengan cara yang hidup dan menarik.
Dimulai dari mata, kita dapat melihat bagaimana iris bekerja membuka dan menutup pupil untuk mengatur jumlah cahaya yang masuk, sementara otot siliar menebalkan atau memipihkan lensa agar pandangan tetap fokus pada objek jauh maupun dekat. Proses halus ini menunjukkan betapa mata kita terus menyesuaikan diri agar mampu melihat dengan jelas dalam berbagai kondisi pencahayaan dan jarak.
Selanjutnya, simulasi “See the Light” memperlihatkan bahwa bayangan yang ditangkap mata sebenarnya terbalik di retina. Namun, otak dengan cerdas membalikkan kembali gambar itu, sehingga kita melihat dunia dalam posisi yang benar. Ketika penglihatan tidak sempurna, seperti pada rabun dekat atau rabun jauh, simulasi “Correction of Near-sightedness & Far-sightedness” membantu kita memahami bagaimana lensa kacamata bekerja mengarahkan kembali fokus cahaya agar jatuh tepat di retina, mengembalikan ketajaman pandangan.
Dari mata, kita beralih ke dunia mikroskopis sistem saraf. Melalui simulasi “Connections of Neuron”, tampak bagaimana neuron-neuron saling terhubung dan mengirimkan sinyal listrik ke otak. Setiap pesan sensorik — baik dari mata, telinga, maupun kulit — menempuh perjalanan kompleks yang luar biasa cepat melalui jaringan saraf ini.
Tidak kalah menarik, simulasi “Cochlear and Audible Frequency” mengajak kita menelusuri telinga bagian dalam, tempat koklea mengubah getaran suara menjadi sinyal yang dapat dipahami otak. Kita dapat melihat bagaimana telinga manusia hanya mampu mendengar pada rentang frekuensi tertentu, dan bagaimana gelombang suara memengaruhi gerakan halus di dalam koklea.
Sebagai penutup, simulasi “Reaction Time Measuring” menunjukkan bagaimana tubuh kita merespons rangsangan dari berbagai indra — penglihatan, pendengaran, dan sentuhan. Dari sini kita bisa membandingkan kecepatan reaksi setiap jenis rangsangan dan menyadari betapa cepatnya sistem saraf kita bekerja.
Keseluruhan simulasi ini membentuk perjalanan yang utuh tentang bagaimana manusia melihat, mendengar, dan merespons dunia — menghubungkan proses biologis yang rumit dengan pengalaman sehari-hari yang tampak begitu sederhana.
*dibuat dengan bantuan ChatGPT
**dibuat agar kalau ada yang butuh, bisa cepat kumpul
0 comments: