Hubungan pernikahan yang harmonis tidak hanya membahagiakan,
tetapi juga berpengaruh besar pada kesehatan fisik. Sebuah penelitian selama 20
tahun di Amerika Serikat mengungkap bahwa cara pasangan mengekspresikan emosi
saat bertengkar—seperti marah atau diam membeku—dapat meningkatkan risiko
penyakit jantung dan nyeri otot di kemudian hari. Studi ini melibatkan 156
pasangan menikah berusia 40–70 tahun. Peneliti merekam percakapan mereka saat
membahas konflik rumah tangga, lalu menganalisis kaitan antara emosi yang
ditunjukkan dengan gejala kesehatan yang muncul bertahun-tahun kemudian.
Saat bertengkar, reaksi emosional yang sering muncul
adalah marah dan diam membeku (stonewalling).
Marah ditandai dengan raut wajah tegang, suara meninggi, atau gerakan tubuh
tidak stabil. Sedangkan diam membeku terjadi ketika salah satu pasangan
tiba-tiba “menutup diri”, tidak merespons, atau menghindar dari pembicaraan.
Contoh sederhana: saat suami marah karena istri lupa janji, ia mungkin
berteriak atau memukul meja. Sementara istri yang diam membeku bisa duduk
termenung, wajah kaku, atau pura-pura sibuk dengan hal lain.
Dampak kedua emosi ini pada kesehatan ternyata
berbeda. Marah yang berulang kali muncul selama konflik dapat
memicu masalah jantung. Saat marah, detak jantung meningkat, tekanan darah
melonjak, dan pembuluh darah bekerja lebih keras. Jika terjadi terus-menerus,
kondisi ini berisiko merusak pembuluh darah dan memicu gejala seperti nyeri
dada atau sesak napas. Dalam studi ini, suami yang sering marah saat bertengkar
cenderung mengalami gangguan jantung dalam 20 tahun berikutnya.
Sementara itu, diam membeku lebih berdampak
pada kesehatan otot dan tulang. Saat seseorang menahan emosi dengan diam, tubuh
secara tidak sadar menjadi kaku—otot leher, punggung, atau bahu menegang. Jika
kebiasaan ini berlangsung lama, otot-otot tersebut mudah lelah dan memicu nyeri
kronis. Penelitian menunjukkan bahwa suami yang sering diam membeku saat
konflik lebih rentan mengalami sakit punggung atau pegal di lengan dan kaki
seiring bertambahnya usia.
Uniknya, efek emosi terhadap kesehatan ini lebih terlihat
pada suami daripada istri. Para ahli menduga hal ini terkait dengan perbedaan
cara pria dan wanita merespons stres. Pria cenderung “membawa” emosi negatif
lebih lama ke dalam tubuh, sementara wanita lebih mudah meluapkan perasaan atau
mencari dukungan sosial. Namun, bukan berarti istri tidak terpengaruh. Studi
ini juga menemukan bahwa istri yang sering marah atau diam membeku berisiko
mengalami gejala serupa, meski efeknya tidak sekuat pada suami.
Temuan ini penting karena penyakit jantung dan nyeri otot
adalah masalah kesehatan global. Penyakit jantung masih menjadi penyebab
kematian tertinggi di dunia, sementara nyeri punggung sering mengganggu
aktivitas sehari-hari, terutama pada lansia. Kabar baiknya, risiko ini bisa
dikurangi dengan mengelola emosi saat berkonflik. Misalnya, alih-alih marah
atau diam, pasangan bisa sepakat untuk berhenti sejenak, menarik napas dalam,
lalu melanjutkan diskusi dengan kepala dingin.
Bagi keluarga, kunci utamanya adalah komunikasi
sehat. Contohnya, saat merasa kesal, suami/istri bisa berkata: “Aku
butuh waktu tenang dulu. Nanti kita bicara lagi setelah emosi mereda.” Atau, “Aku
sedih karena janjimu tidak ditepati. Bisakah kita mencari solusi bersama?” Dengan
cara ini, emosi tidak tertahan atau meledak secara destruktif.
Penelitian ini mengingatkan kita bahwa pernikahan bukan
hanya tentang cinta, tetapi juga tentang saling menjaga kesehatan. Emosi yang
diungkapkan dengan bijak tidak hanya memperkuat hubungan, tetapi juga
melindungi tubuh dari risiko penyakit. Jadi, mari belajar mengelola amarah dan
menghindari kebiasaan diam membeku—karena kesehatan keluarga dimulai dari hati
yang tenang!
(Berdasarkan penelitian Claudia M. Haase dkk., 2016.
Disajikan ulang oleh scispace dan deepseek dengan gaya naratif untuk mudah dipahami.)

0 comments: