Senin, 10 Maret 2025

Harmonis itu Menyehatkan & Pertengkaran itu Bikin Penyakitan

Hubungan pernikahan yang harmonis tidak hanya membahagiakan, tetapi juga berpengaruh besar pada kesehatan fisik. Sebuah penelitian selama 20 tahun di Amerika Serikat mengungkap bahwa cara pasangan mengekspresikan emosi saat bertengkar—seperti marah atau diam membeku—dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan nyeri otot di kemudian hari. Studi ini melibatkan 156 pasangan menikah berusia 40–70 tahun. Peneliti merekam percakapan mereka saat membahas konflik rumah tangga, lalu menganalisis kaitan antara emosi yang ditunjukkan dengan gejala kesehatan yang muncul bertahun-tahun kemudian.

Saat bertengkar, reaksi emosional yang sering muncul adalah marah dan diam membeku (stonewalling). Marah ditandai dengan raut wajah tegang, suara meninggi, atau gerakan tubuh tidak stabil. Sedangkan diam membeku terjadi ketika salah satu pasangan tiba-tiba “menutup diri”, tidak merespons, atau menghindar dari pembicaraan. Contoh sederhana: saat suami marah karena istri lupa janji, ia mungkin berteriak atau memukul meja. Sementara istri yang diam membeku bisa duduk termenung, wajah kaku, atau pura-pura sibuk dengan hal lain.

Dampak kedua emosi ini pada kesehatan ternyata berbeda. Marah yang berulang kali muncul selama konflik dapat memicu masalah jantung. Saat marah, detak jantung meningkat, tekanan darah melonjak, dan pembuluh darah bekerja lebih keras. Jika terjadi terus-menerus, kondisi ini berisiko merusak pembuluh darah dan memicu gejala seperti nyeri dada atau sesak napas. Dalam studi ini, suami yang sering marah saat bertengkar cenderung mengalami gangguan jantung dalam 20 tahun berikutnya.

Sementara itu, diam membeku lebih berdampak pada kesehatan otot dan tulang. Saat seseorang menahan emosi dengan diam, tubuh secara tidak sadar menjadi kaku—otot leher, punggung, atau bahu menegang. Jika kebiasaan ini berlangsung lama, otot-otot tersebut mudah lelah dan memicu nyeri kronis. Penelitian menunjukkan bahwa suami yang sering diam membeku saat konflik lebih rentan mengalami sakit punggung atau pegal di lengan dan kaki seiring bertambahnya usia.

Uniknya, efek emosi terhadap kesehatan ini lebih terlihat pada suami daripada istri. Para ahli menduga hal ini terkait dengan perbedaan cara pria dan wanita merespons stres. Pria cenderung “membawa” emosi negatif lebih lama ke dalam tubuh, sementara wanita lebih mudah meluapkan perasaan atau mencari dukungan sosial. Namun, bukan berarti istri tidak terpengaruh. Studi ini juga menemukan bahwa istri yang sering marah atau diam membeku berisiko mengalami gejala serupa, meski efeknya tidak sekuat pada suami.

Temuan ini penting karena penyakit jantung dan nyeri otot adalah masalah kesehatan global. Penyakit jantung masih menjadi penyebab kematian tertinggi di dunia, sementara nyeri punggung sering mengganggu aktivitas sehari-hari, terutama pada lansia. Kabar baiknya, risiko ini bisa dikurangi dengan mengelola emosi saat berkonflik. Misalnya, alih-alih marah atau diam, pasangan bisa sepakat untuk berhenti sejenak, menarik napas dalam, lalu melanjutkan diskusi dengan kepala dingin.

Bagi keluarga, kunci utamanya adalah komunikasi sehat. Contohnya, saat merasa kesal, suami/istri bisa berkata: “Aku butuh waktu tenang dulu. Nanti kita bicara lagi setelah emosi mereda.” Atau, “Aku sedih karena janjimu tidak ditepati. Bisakah kita mencari solusi bersama?” Dengan cara ini, emosi tidak tertahan atau meledak secara destruktif.



Penelitian ini mengingatkan kita bahwa pernikahan bukan hanya tentang cinta, tetapi juga tentang saling menjaga kesehatan. Emosi yang diungkapkan dengan bijak tidak hanya memperkuat hubungan, tetapi juga melindungi tubuh dari risiko penyakit. Jadi, mari belajar mengelola amarah dan menghindari kebiasaan diam membeku—karena kesehatan keluarga dimulai dari hati yang tenang!

(Berdasarkan penelitian Claudia M. Haase dkk., 2016. Disajikan ulang oleh scispace dan deepseek dengan gaya naratif untuk mudah dipahami.)


 Haase, C. M., Holley, S. R., Bloch, L., Verstaen, A., & Levenson, R. W. (2016). Interpersonal emotional behaviors and physical health: A 20-year longitudinal study of long-term married couples. Emotion, 16(7), 965–977. https://doi.org/10.1037/a0040239

Previous Post
Next Post

Hai, nama saya Maulanida ^_^ Sudah, gitu aja :D Peace Assalamu alaikum

0 comments: