Senin, 10 Maret 2025

Tidak Mau Berbicara pada Pasangan dan Anak (Ngambek)

Pernahkah Anda mengalami situasi di mana seseorang yang dekat dengan Anda—pasangan, orang tua, anak, rekan kerja, atau atasan—tiba-tiba mendiamkan Anda tanpa alasan yang jelas? Mungkin Anda mencoba berbicara, tetapi hanya mendapatkan kebisuan sebagai balasan. Atau mungkin Anda sendiri pernah menggunakan perlakuan diam ini sebagai bentuk respons terhadap konflik atau ketidakpuasan. Silent treatment adalah fenomena yang sering terjadi dalam berbagai jenis hubungan dan sering kali menimbulkan kebingungan, frustrasi, bahkan luka emosional. Meskipun tampak seperti cara sederhana untuk menghindari konflik, perilaku ini memiliki dampak psikologis dan relasional yang mendalam, baik bagi pemberi maupun penerima.

Dinamika Psikologis dari Silent Treatment

Silent treatment sering digunakan sebagai taktik pasif-agresif untuk menyampaikan ketidakpuasan tanpa melakukan konfrontasi secara langsung. Perilaku ini dapat menyebabkan kelelahan emosional serta meningkatkan tingkat kecemasan, baik bagi pemberi maupun penerima (Liu & Roloff, 2015; Putri & Ariana, 2022). Dalam hubungan romantis, silent treatment dapat memperburuk konflik yang ada dan mengurangi kepuasan dalam hubungan (Wright & Roloff, 2015; Wright & Roloff, 2009).

Selain itu, silent treatment juga sering digunakan sebagai strategi manipulasi, khususnya untuk menghentikan perilaku yang tidak diinginkan dari orang lain (Buss et al., 1987). Perilaku ini dapat menciptakan ketidakseimbangan kekuasaan dalam hubungan dan menyebabkan dampak psikologis yang merugikan bagi individu yang menjadi korban.

Dampak Silent Treatment pada Hubungan

Silent treatment dapat merusak dinamika hubungan dengan menciptakan siklus kesalahpahaman dan kebencian. Dalam beberapa kasus, perilaku ini dapat dianggap sebagai bentuk ostrasisme atau pengucilan sosial, yang dapat mengancam rasa memiliki dan harga diri individu (Nezlek et al., 2012; Wesselmann et al., 2012).

Dalam hubungan antara orang tua dan anak, silent treatment sering digunakan untuk menyampaikan rasa kecewa. Namun, hal ini justru dapat mengurangi kepuasan dan identifikasi anak terhadap hubungan mereka dengan orang tua (Rittenour et al., 2019). Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa tingkat komitmen dalam hubungan juga mempengaruhi penggunaan silent treatment, di mana tingkat komitmen yang lebih tinggi berkorelasi dengan penggunaan perilaku ini yang lebih rendah (Wright & Roloff, 2009).

Silent Treatment dalam Psikoterapi

Dalam dunia psikoterapi, keheningan atau silent treatment dapat memiliki makna yang beragam. Di satu sisi, diam dapat digunakan sebagai alat untuk introspeksi dan memperoleh wawasan lebih dalam. Namun, di sisi lain, diam juga dapat menjadi tanda dari ketidakterlibatan atau resistensi klien terhadap terapi, yang dapat berujung pada hasil terapi yang kurang efektif (Levitt & Morrill, 2023; Stringer et al., 2010).

Kualitas dan frekuensi keheningan dalam terapi dapat mempengaruhi hubungan terapeutik antara klien dan terapis. Individu dengan keterikatan yang tidak aman cenderung menunjukkan lebih banyak jeda diam yang bersifat menghambat proses terapi (Daniel et al., 2018). Oleh karena itu, terapis perlu memahami konteks di mana diam terjadi dan mengelolanya secara efektif agar tetap mendukung proses terapi (Levitt & Morrill, 2023; Soma et al., 2022).

Kesimpulan

Meskipun sering kali dikaitkan dengan dampak negatif seperti stres emosional dan kerusakan hubungan, silent treatment juga dapat memiliki fungsi tertentu, seperti menjaga sumber daya emosional selama interaksi yang tidak menyenangkan. Dalam beberapa konteks, seperti dalam psikoterapi, diam dapat menjadi alat refleksi dan pemrosesan emosional, selama penggunaannya dikelola dengan baik oleh terapis (Sommer & Yoon, 2013; Zimmermann et al., 2021). Oleh karena itu, penting bagi individu untuk memahami dampak dan dinamika dari silent treatment guna mengurangi efek negatifnya serta meningkatkan komunikasi yang lebih sehat dalam hubungan interpersonal.

*ditulis dengan bantuan Ai: Scispace dan ChatGPT

Referensi

Biteniekytė, M., & Vaštakė, M. (2024). Tylos pauzės psichoterapijos procese: sisteminė literatūros analizė. Psichologija.

Buss, D. M., Gomes, M., Higgins, D. S., & [1 more]. (1987). Tactics of manipulation. Journal of Personality and Social Psychology.

Ciarocco, N. J., Sommer, K. L., & Baumeister, R. F. (2001). Ostracism and ego depletion: The strains of silence. Personality and Social Psychology Bulletin.

Daniel, S. I. F., Folke, S., Lunn, S., & [2 more]. (2018). Mind the gap: In-session silences are associated with client attachment insecurity, therapeutic alliance, and treatment outcome. Psychotherapy Research.

Gooley, S. L., Zadro, L., Williams, L. A., & [2 more]. (2015). Ostracizing for a reason: A novel source paradigm for examining the nature and consequences of motivated ostracism. Journal of Social Psychology.

Levitt, H. M., & Morrill, Z. (2023). Silences in psychotherapy: An integrative meta-analytic research review. Psychotherapy.

Levitt, H. M., & Morrill, Z. (2023). Silence. In [Editor Name] (Ed.), [Book Title] (pp. [Page Range]).

Liu, E., & Roloff, M. E. (2015). Exhausting silence: Emotional costs of withholding complaints. Negotiation and Conflict Management Research.

Nezlek, J. B., Wesselmann, E. D., & Wheeler, L. (2012). Ostracism in everyday life. Group Dynamics: Theory, Research, and Practice.

Putri, C. N., & Ariana, A. D. (2022). Kecemasan diri dewasa awal yang menjalani hubungan romantis saat mendapat perilaku silent treatment. Buletin Riset Psikologi dan Kesehatan Mental.

Rittenour, C. E., Kromka, S. M., Saunders, R. K., & [5 more]. (2019). Socializing the silent treatment: Parent and adult child communicated displeasure, identification, and satisfaction. Journal of Family Communication.

Sommer, K. L., & Yoon, J. (2013). When silence is golden: Ostracism as resource conservation during aversive interactions. Journal of Social and Personal Relationships.

Soma, C. S., Wampold, B. E., Flemotomos, N., & [4 more]. (2022). The silent treatment?: Changes in patient emotional expression after silence. Counselling and Psychotherapy Research.

Van Dyke Stringer, J. G., Levitt, H. M., Berman, J. S., & [1 more]. (2010). A study of silent disengagement and distressing emotion in psychotherapy. Psychotherapy Research.

Williams, K. D., Shore, W. J., & Grahe, J. (1998). The silent treatment: Perceptions of its behaviors and associated feelings. Group Processes & Intergroup Relations.

Wesselmann, E. D., Nairne, J. S., & Williams, K. D. (2012). An evolutionary social psychological approach to studying the effects of ostracism. The Journal of Social, Evolutionary, and Cultural Psychology.

Wright, C. N., & Roloff, M. E. (2009). Relational commitment and the silent treatment. Communication Research Reports.

Wright, C. N., & Roloff, M. E. (2015). You should just know why I'm upset: Expectancy violation theory and the influence of mind reading expectations (MRE) on responses to relational problems. Communication Research Reports.

Zimmermann, R., Fürer, L., Schenk, N., & [5 more]. (2021). Silence in the psychotherapy of adolescents with borderline personality pathology. Personality Disorders: Theory, Research, and Treatment.

Ahn, J. S., Scheidt, C. E., & Lahmann, C. (2024). Schweigen in der videobasierten Psychotherapie: Eine Pilotstudie. Zeitschrift für Psychosomatische Medizin und Psychotherapie.

Previous Post
Next Post

Hai, nama saya Maulanida ^_^ Sudah, gitu aja :D Peace Assalamu alaikum

0 comments: