Senin, 10 Maret 2025

Keseringan Sharing Bikin Nikmat Jadi Garing

Banyak penelitian menunjukkan bahwa terlalu sering membagikan momen bahagia di media sosial justru mengurangi kepuasan kita. Artikel ini akan menjelaskan mengapa hal itu terjadi—dengan bahasa sederhana. Bayangkan ini: Kamu baru saja mendapat kue ulang tahun cantik, atau hadiah spesial dari sahabat atau jalan-jalan bersama seseorang. Sebelum menikmatinya, kamu ambil ponsel, cari sudut terbaik, lalu click!—unggah ke Instagram atau TikTok. Tapi, setelah itu… kok rasanya kue itu tak semenarik yang kamu foto? Atau hadiah itu tak seistimewa yang kamu harapkan? Atau kamu lebih memikirkan postingan daripada menikmati perjalanan.


1. "Awalnya Demi Diri Sendiri, Lalu Berubah Demi Likes"

Menurut Self-Determination Theory (Ryan & Deci, 2000), manusia punya dua jenis motivasi:

  • Motivasi Intrinsik: Melakukan sesuatu karena senang/suka (misal: makan es krim karena suka rasanya).
  • Motivasi Ekstrinsik: Melakukan sesuatu demi imbalan (misal: foto es krim biar dapat banyak like).

Ketika kamu mulai fokus pada likes atau komentar, motivasi intrinsikmu berkurang. Otakmu berpikir, "Ini bukan untukku, tapi untuk orang lain". Akibatnya? Kamu tak lagi menikmati momen tersebut sepenuhnya.

Contoh:
Rina mendapat hadiah boneka beruang. Jika dia langsung memeluk bonekanya karena senang, dia bahagia. Tapi jika dia sibuk foto bonekanya dari 10 sudut berbeda + edit 1 jam, dia justru kelelahan dan merasa bonekanya "biasa saja".


2. "Efek Hadiah yang Justru Bikin Bosan"

Pernah dengar Overjustification Effect? Ini seperti ketika kamu diberi uang jajan karena membereskan kamar. Awalnya rajin, tapi lama-lama kamu malas jika tak ada uang. Penelitian Lepper et al. (1973) membuktikan hal ini!

Begitu juga dengan membagikan hadiah/makanan di media sosial. Jika kamu terbiasa melakukannya untuk pujian, nilai kebahagiaan dari hadiah/makanan itu sendiri akan turun. Kamu jadi lebih fokus pada "apakah orang lain suka?" daripada "apakah aku suka?".


3. "Sibuk Foto, Lupa Nikmatin"

Pernah lihat orang yang sibuk live konser musik tapi tak menikmati lagunya? Itu disebut Attention Residue (Diehl et al., 2016)—sisa perhatian terbagi antara menikmati momen dan mendokumentasikannya.

Contoh:
Ayah memasak mie goreng lezat. Jika kamu langsung makan, kamu akan merasakan gurihnya. Tapi jika kamu foto dulu, edit pakai filter, lalu baca komentar, otakmu sudah kelelahan. Mie gorengnya pun terasa… biasa saja.


4. "Membandingkan Diri dengan Orang Lain: Jebakan Media Sosial"

Social Comparison Theory (Krasnova et al., 2013) menjelaskan bahwa manusia suka membandingkan diri dengan orang lain. Saat kamu membagikan hadiah/makanan, kamu mungkin melihat postingan orang lain yang lebih wah.

Contoh:
Kamu mendapat sepatu baru. Kamu senang, lalu unggah foto. Tiba-tiba, kamu lihat temanmu punya sepatu model terbaru. Sepatumu yang tadinya keren, tiba-tiba terasa "ketinggalan zaman". Padahal, sebelumnya kamu sangat suka!


5. "Kebahagiaan itu Cepat Luntur, Loh!"

Manusia punya sifat Hedonic Adaptation (Frederick & Loewenstein, 1999): cepat terbiasa dengan hal menyenangkan. Misal, pertama kali punya HP baru, kamu senang. Tapi sebulan kemudian, rasa senang itu hilang.

Nah, kalau kamu terus-menerus membagikan hadiah/makanan di media sosial, otakmu akan lebih cepat bosan. Kenapa? Karena kamu "mengulang" kebahagiaan itu secara virtual, bukan merasakannya langsung.


Tips Agar Tetap Bahagia Tanpa Terganggu Media Sosial:

  1. "Nikmati Dulu, Baru Dokumentasikan": Makanlah 3 suap pertama tanpa gangguan. Rasakan betapa enaknya!
  2. "Batasi Waktu Unggah": Foto hadiahmu maksimal 5 menit, lalu simpan ponsel.
  3. "Ingat: Ini Untukmu, Bukan Untuk Mereka"Likes hanya angka. Kebahagiaanmu jauh lebih penting!

Kesimpulan

Membagikan kebahagiaan di media sosial itu sah-sah saja. Tapi, jangan sampai hal itu mengalihkanmu dari menikmati momen berharga secara langsung. Kebahagiaan sejati datang dari dalam diri, bukan dari pujian orang lain.

Jadi, lain kali dapat hadiah atau makanan enak… slow down, nikmati, dan baru bagikan jika mau. Siapa tahu, kamu akan merasa lebih bersyukur!




Daftar Referensi

  1. Ryan, R. M., & Deci, E. L. (2000). Self-Determination Theory and the Facilitation of Intrinsic MotivationLink
  2. Lepper, M. R., Greene, D., & Nisbett, R. E. (1973). Undermining Children’s Intrinsic Interest with Extrinsic RewardLink
  3. Diehl, K., et al. (2016). How Taking Photos Increases Enjoyment of ExperiencesLink
  4. Krasnova, H., et al. (2013). Envy on Facebook: A Hidden Threat to Users’ Life Satisfaction?Link
  5. Frederick, S., & Loewenstein, G. (1999). Hedonic AdaptationLink

Artikel ini ditulis dengan bantuan deepseek, untuk mengingatkan kita semua: hidup bukan untuk dilihat orang lain, tapi untuk dirasakan dengan hati. ❤️

  

Previous Post
Next Post

Hai, nama saya Maulanida ^_^ Sudah, gitu aja :D Peace Assalamu alaikum

0 comments: