Banyak penelitian menunjukkan bahwa terlalu sering
membagikan momen bahagia di media sosial justru mengurangi kepuasan kita.
Artikel ini akan menjelaskan mengapa hal itu terjadi—dengan bahasa sederhana. Bayangkan ini: Kamu baru saja mendapat kue ulang tahun cantik, atau hadiah spesial dari sahabat atau jalan-jalan bersama seseorang. Sebelum menikmatinya, kamu ambil ponsel, cari sudut terbaik, lalu click!—unggah ke Instagram atau TikTok. Tapi, setelah itu… kok rasanya kue itu tak semenarik yang kamu foto? Atau hadiah itu tak seistimewa yang kamu harapkan? Atau kamu lebih memikirkan postingan daripada menikmati perjalanan.
1. "Awalnya Demi Diri Sendiri, Lalu Berubah Demi
Likes"
Menurut Self-Determination Theory (Ryan
& Deci, 2000), manusia punya dua jenis motivasi:
- Motivasi
Intrinsik: Melakukan sesuatu karena senang/suka (misal: makan es krim
karena suka rasanya).
- Motivasi
Ekstrinsik: Melakukan sesuatu demi imbalan (misal: foto es krim biar
dapat banyak like).
Ketika kamu mulai fokus pada likes atau
komentar, motivasi intrinsikmu berkurang. Otakmu berpikir, "Ini
bukan untukku, tapi untuk orang lain". Akibatnya? Kamu tak lagi
menikmati momen tersebut sepenuhnya.
Contoh:
Rina mendapat hadiah boneka beruang. Jika dia langsung memeluk bonekanya karena
senang, dia bahagia. Tapi jika dia sibuk foto bonekanya dari 10 sudut berbeda +
edit 1 jam, dia justru kelelahan dan merasa bonekanya "biasa saja".
2. "Efek Hadiah yang Justru Bikin Bosan"
Pernah dengar Overjustification Effect? Ini
seperti ketika kamu diberi uang jajan karena membereskan kamar. Awalnya rajin,
tapi lama-lama kamu malas jika tak ada uang. Penelitian Lepper et al. (1973)
membuktikan hal ini!
Begitu juga dengan membagikan hadiah/makanan di media
sosial. Jika kamu terbiasa melakukannya untuk pujian, nilai kebahagiaan
dari hadiah/makanan itu sendiri akan turun. Kamu jadi lebih fokus
pada "apakah orang lain suka?" daripada "apakah
aku suka?".
3. "Sibuk Foto, Lupa Nikmatin"
Pernah lihat orang yang sibuk live konser
musik tapi tak menikmati lagunya? Itu disebut Attention Residue (Diehl
et al., 2016)—sisa perhatian terbagi antara menikmati momen dan
mendokumentasikannya.
Contoh:
Ayah memasak mie goreng lezat. Jika kamu langsung makan, kamu akan merasakan
gurihnya. Tapi jika kamu foto dulu, edit pakai filter, lalu baca komentar,
otakmu sudah kelelahan. Mie gorengnya pun terasa… biasa saja.
4. "Membandingkan Diri dengan Orang Lain: Jebakan
Media Sosial"
Social Comparison Theory (Krasnova et al., 2013)
menjelaskan bahwa manusia suka membandingkan diri dengan orang lain. Saat kamu
membagikan hadiah/makanan, kamu mungkin melihat postingan orang lain yang lebih
wah.
Contoh:
Kamu mendapat sepatu baru. Kamu senang, lalu unggah foto. Tiba-tiba, kamu lihat
temanmu punya sepatu model terbaru. Sepatumu yang tadinya keren, tiba-tiba
terasa "ketinggalan zaman". Padahal, sebelumnya kamu sangat suka!
5. "Kebahagiaan itu Cepat Luntur, Loh!"
Manusia punya sifat Hedonic Adaptation (Frederick
& Loewenstein, 1999): cepat terbiasa dengan hal menyenangkan. Misal,
pertama kali punya HP baru, kamu senang. Tapi sebulan kemudian, rasa senang itu
hilang.
Nah, kalau kamu terus-menerus membagikan hadiah/makanan di
media sosial, otakmu akan lebih cepat bosan. Kenapa? Karena kamu
"mengulang" kebahagiaan itu secara virtual, bukan merasakannya
langsung.
Tips Agar Tetap Bahagia Tanpa Terganggu Media Sosial:
- "Nikmati
Dulu, Baru Dokumentasikan": Makanlah 3 suap pertama tanpa
gangguan. Rasakan betapa enaknya!
- "Batasi
Waktu Unggah": Foto hadiahmu maksimal 5 menit, lalu simpan
ponsel.
- "Ingat:
Ini Untukmu, Bukan Untuk Mereka": Likes hanya
angka. Kebahagiaanmu jauh lebih penting!
Kesimpulan
Membagikan kebahagiaan di media sosial itu sah-sah saja.
Tapi, jangan sampai hal itu mengalihkanmu dari menikmati momen berharga
secara langsung. Kebahagiaan sejati datang dari dalam diri, bukan dari
pujian orang lain.
Jadi, lain kali dapat hadiah atau makanan enak… slow
down, nikmati, dan baru bagikan jika mau. Siapa tahu, kamu
akan merasa lebih bersyukur!
Daftar Referensi
- Ryan,
R. M., & Deci, E. L. (2000). Self-Determination Theory and the
Facilitation of Intrinsic Motivation. Link
- Lepper,
M. R., Greene, D., & Nisbett, R. E. (1973). Undermining
Children’s Intrinsic Interest with Extrinsic Reward. Link
- Diehl,
K., et al. (2016). How Taking Photos Increases Enjoyment of
Experiences. Link
- Krasnova,
H., et al. (2013). Envy on Facebook: A Hidden Threat to Users’
Life Satisfaction?. Link
- Frederick,
S., & Loewenstein, G. (1999). Hedonic Adaptation. Link
Artikel ini ditulis dengan bantuan deepseek, untuk mengingatkan kita semua: hidup
bukan untuk dilihat orang lain, tapi untuk dirasakan dengan hati. ❤️

0 comments: